Beberapa pekan lalu ketika habis olahraga Sabtu saya berkeliling di tempat dimana saya bekerja, beruntung bekerja di perusahaan yang punya lahan terbuka hijau cukup banyak. Kolam² akhir dari hasil proses IPAL dimanfaatkan untuk memelihara ikan, kemudian lahan² terbuka hijau ditanami tanaman² yang menghasilkan bahan pangan. 

Ada kenikir, cabe, terong, sayur salada, sawi dll. Melihat itu saya jadi terpikir juga pengen menanam komoditas lain di lahan terbuka hijau ini. Toh saya pernah berhasil memanen tanaman itu di pekarangan rumah beberapa waktu silam. 


Alhasil hari ini selepas jalan pagi, tugas selesai 5x putaran saya langsung ke area pekarangan belakang, saya cari lahan yang sekiranya gembur untuk ditanami benih atau bibit. 

Ilustrasi, apa yang tengah saya lakukan, harapannya seperti ini, walau itu cuma mimpi belaka tanpa kerja keras

Saya hari ini hanya siapkan dua bibit: tomat cherry dan labu kuning (butternut) yang pernah saya tanam sebelumnya di pekarangan rumah dan berhasil. Kali ini saya mencoba menanamnya di pekarangan pabrik, nampaknya tanah di sini relatif subur, tapi gak tahu juga. 

Soalnya bibit yang saya miliki ini adalah bibit lama, ya sudah beberapa waktu, bahkan mungkin lebih dari setahun lalu bibit ini saya beli, ini sisa yang belum saya tanam sejak saya beli. Jadi entahlah apakah akan menghasilkan tunas ketika ditanam? Sekalian saya buktikan saja sih. Soalnya kalau dulu, ditanam dan tumbuhnya relatif cepat. Bisa dibaca diblog ini soal labu botol, begitu saya menyebutnya. 

Berbekal alat seadanya, besi bekas tulangan beton dan plastik kresek sebagai tempat air untuk siram tanah supaya gembur, lembab dan basah untuk media tanam. 

Metode tanamnya adalah membiarkan mekanisme alam bekerja sebagaimana mestinya, sekaligus melihat bagaimana alam bekerja. Kita lihat apakah dia akan tumbuh menjadi tunas dan akhirnya bisa menghasilkan. Saya juga belum tau tantangan di sini, hamanya seperti apa. Yang saya tahu paling ya semut² tanah biasa. 

Saya akan coba tuliskan updatenya diblog ini, sama seperti dulu ketika saya merawat tanaman labu hingga panen. 

Untuk dokumentasinya ya seperti yang saya bagikan dipostingan ini, terlihat sederhana dan tidak sesuai dengan kaidah² menanam yang umum, karena metodenya bener² pure nature. 

Ini labu madu dimana saya tanam, saya kasi tanda bungkus bibitnya. Nanti Senin akan saya cek lagi perkembangannya

Ini tomat cherry 🍒 nya, saya tanam agak ke dinding pembatas, supaya dia bisa tertahan sama dinding tembok ketika tumbuh. Walaupun cara ini bikin dia dirayapi hama. Tapi kita lihat saja dulu kedepan, apa bisa tumbuh

Semoga cara yang salah ini bisa menghasilkan sesuatu, tapi bukan berarti jika cara yang salah ini dianggap benar jika berhasil, ini hanya soal keberuntungan dan alam yang hebat. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#labumadu
#pengalaman
#menanamdipabrik
#metodealam
Permasalahan 'tenaga kerja' asing yang merecoki pasar lokal tak hanya dialami oleh manusia ternyata, di dunia hewan pun demikian. Lho koq bisa? 

Yang saya maksud adalah ikan sapu². Ikan ini bukan asli dari perairan Indonesia, tetapi dari luar negeri. Berarti tenaga asing bukan? Itu dia kenapa saya sebut 'tenaga kerja' asing tadi, karena memang ikan ini berasal dari luar Indonesia, tepatnya dari Amerika Selatan: lembah sungai Amazon (Brasil, Kolombia, Peru, Venezuela) dan Amerika Tengah (Panama, Kostarika, sebagian Meksiko). 

Ilustrasi disiapkan oleh chatgpt

Ikan ini mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980 / 1990-an, diimpor sebagai ikan hias aquarium. Jenisnya seperti yang saya sebutkan di bawah ini.  

Ikan jenis ini punya beberapa nama spesies latinnya:
🐟 Hypostomus plecostomus (yang umum dipelihara di aquarium hias rumah kita) 
🐟 Ancitrus sp. (ikan sapu² yang berukuran mini) 
🐟 Pterygoplichthys pardalis
🐟 Pterygoplichthys disjunctivus

Dua spesies yang disebutkan terakhir itu yang sering dijumpai di sungai² di Indonesia, yang sering dikatakan sebagai spesies invasif. 

Perbedaannya apa sih ikan sapu² yang di aquarium dan yang di sungai? 

Dari sisi ukuran, ikan sapu² sungai itu cenderung lebih besar, kira² 30-60 cm panjangnya. Siripnya cenderung tinggi seperti layar (membantunya melawan arus sungai). Corak tubuhnya totol dengan pola retakan (dengan guratan kasar). Karakternya agresif jika dibandingkan ikan sapu² aquarium. 

Sedangkan ikan sapu² aquarium meski bisa tumbuh besar, tapi ukurannya umumnya lebih kecil 10-25 cm panjangnya. Sirip lebih pendek dan corak tubuhnya lebih halus. 

Ikan sapu² sungai sering membuat sungai keruh karena karakternya yang agresif menggali dasar lumpur untuk mencari makan dan bersembunyi, sehingga membuat lumpur terangkat dan menjadi keruh. Sifatnya agresif ini cenderung omnivora, pemakan segala, sehingga membuat sumber makanan untuk spesies ikan lokal kalah saing, karena sifat invasifnya ini. 


Jakarta merupakan salah satu daerah yang mengalami peningkatan populasi ikan sapu² di sungai² nya, dimana sungai di Jakarta diisi ikan sapu² lebih banyak dibandingkan ikan lokalnya. Hal ini didukung kondisi sungai² di Jakarta yang terkontaminasi polusi, membuat ikan² lokal akhirnya tidak mampu bertahan. Kondisi seperti ini bisa dimaklumi oleh ikan sapu², sehingga populasinya tetap bertahan bahkan cenderung meningkat. 

Dulu ketika saya di Jakarta, saya berpikir riak atau cipratan, gejolak di sungai di Jakarta itu karena ikan² lokal, saya pikir "wih hebat ya, sungai di Jakarta masih dihuni ikan-ikan lokal".

Ternyata anggapan saya itu salah besar, benar memang di sungai itu ada ikannya, tapi bukan ikan lokal tapi ikan sapu² lah yang ada di sana, nampaknya sih menarik, mengintimidasi kita yang senang mancing untuk memancing, padahal di sana isinya cuma ikan sapu², ikan yang tak punya nilai ekonomis sama sekali. 

Tapi saya dengar banyak juga oknum yang memanfaatkan ikan ini untuk bahan pembuatan bakso², cilok², sebagai pengganti ikan tengiri yang harganya mahal. Padahal sih jelas ikan ini gak layak bahkan tak enak jika dikonsumsi. Tapi banyak juga pedagang nakal yang mengelabui untuk menekan biaya produksi. 

Ikan ini dianggap ikan invasif yang membuat spesies lokal terdampak 'punah'. Sebenarnya menurut saya tidak bisa disalahkan ikan ini juga. Justru perilaku manusia lah yang harus disalahkan. Bukan karena juga manusia yang buang ikan jenis ini ke sungai, iya mereka juga salah tapi bisa juga karena ketidakpahaman. 

Masalah sebenarnya ada pada perilaku manusia yang membuat ekosistem sungai itu rusak dengan cara:
📛 Buang limbah berbahaya baik cair dan padat langsung ke sungai (pemilik² industri) 
📛 Buang sampah ke sungai (rumah tangga) 
📛 Buang apapun yang dianggap tak berharga ke sungai (pribadi orang per orang) 
📛 Hingga buang mayat juga ke sungai (penjahat/kriminal) 
📛 Tidak memanfaatkan sungai sebagaimana fungsinya (masyarakat secara sosial) 

Sungai selama ini dan sejauh ini hanya dianggap jalur otomatis untuk melenyapkan sesuatu, tidak dianggap sebagai bagian dari ekosistem manusia hidup, dimana di sana ara habitat makluk lainnya yang juga punya hak hidup. 


Jika sungai bisa dijaga dengan baik, otomatis sungai ini menjadi layak huni, spesies lokal pasti akan bisa hidup dan tumbuh berkembang di sana, jikapun ada ikan sapu² di sana setidaknya masih bisa berdampingan, karena ikan lokal bisa hidup tanpa polisi. 

Tinggal selanjutnya adalah memberikan sosialisasi yang masif kepada masyarakat soal melepas ikan² yang bukan asalnya ke sungai² lokal dengan alasan apapun, bahkan dengan alasan perikebinatangan sekalipun agar dia hidup bebas di alam liar. Cara ini bukan pilihan tepat karena spesies itu bukan spesies aslinya, sehingga akan ada implikasi dari tindakan tersebut. 

Daripada diinvasi oleh ikan sapu² lebih baik menginvasi sosial media dan masyarakat dengan informasi edukasi soal dampak dari melepas ikan non lokal ke sungai.

Masalah sosialisasi pada masyarakat saja masih kurang koq berharap masyarakat paham. Tidak semua yang melepas ikan sapu² atau ikan predator itu memahami dampak jangka panjangnya, mereka hanya berusaha berpikir pendek daripada membunuh hewan yang telah mereka pelihara, padahal cara itu akan memberikan dampak yang lebih besar. Jadi intinya harus diedukasi sih kalau menurut saya, daripada menyalahkan. 

Yang perlu disalahkan adalah perilaku tadi, yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah atau TPS limbah raksasa. Karena apa, sosialisasi dan edukasi membuang sampah sudah lebih lama disuarakan namun masih saja ada perilaku salah berulang. 

Sedangkan kebiasaan melepas hewan peliharaan ke alam bebas ini baru muncul belakangan sejak semakin luas peredaran atau perdagangan barang (hewan) dari luar negeri masuk ke Indonesia. Tidak sebanyak dulu dibandingkan sekarang, sehingga saat ini hal ini barulah menjadi masalah, sedangkan dulu tidak semasif ini. 

Solusi lainnya, correction action nya ya dengan melakukan penangkapan secara masif terhadap ikan ini, untuk kemudian bisa dimusnahkan atau jadi pupuk fosil dipendem di suatu tempat, dengan memanfaatkan para nelayan misalnya. 

Kemudian memanfaatkan sungai dengan cara yang benar dan menjadikan sungai itu sebagai tempat yang layak untuk dinikmati dengan cara yang lebih modern. 

Jadi ini opini saya menyikapi masifnya ikan sapu² menguasai habitat ikan lokal di sungai² di Indonesia ini. Mungkin kalian punya opini lain menyikapi masalah ikan sapu² ini, bisa share di kolom komentar. -cpr

#onedayonepost
#opini
#umum
#ikansapusapu


Bonus:
Ternyata permasalahan ikan sapu-sapu ini tidak dialami Indonesia saja, Meksiko 🇮🇹 juga mengalami masalah ikan invasif yang berasal dari Amazon, tapi ternyata mereka justru lebih cerdas memanfaatkan ikan ini, dan itu tidak dialami di Indonesia. Di Indonesia justru orang menjualnya untuk pakan manusia, sedangkan di luar negeri dimanfaatkan untuk nilai ekonomis lain. Tonton video ini, dan apakah kamu akan terinspirasi?