Pagi hari kemarin saya melakukan rutinitas biasa, ke halaman belakang, bersihkan kandang Chella dan niatnya mau sapu halaman belakang dari daun² bambu yang berguguran. Dari kegelapan saya memperhatikan ada sesuatu yang bergerak, saya langsung berpikir itu tikus, dan langsung saya gercep menutup pintu belakang rumah. 

Karena beberapa waktu lalu si tikus ini bikin masalah di dalam rumah, bikin kotor, dia ngencingin tempat piring, dan kita tahu dia ini hewan pembawa penyakit. Kita usir dari rumah dan rumah kini bebas tikus, jadi penghuni rumah berusaha agar si tikus ini tidak kembali. 

Sering kita lihat tikus ini mondar-mandir di halaman belakang, gerakannya lincah, lihat kita dia kabur, tapi kita tidak ada dia turun ke halaman belakang. Seringnya dia (baca: tikus) ini memakan sisa jatuhan dari makanan Chella. Malah terkadang dia ini ngambil langsung ke tempat makanan Chella. 

Jengkel sih, dan kita juga tidak tahu ada berapa ekor yang ada di belakang, dari ukuran kecil sampai sedang kira² yang ada di belakang. Kesel, pengen bikin mati itu hewan tapi gimana. 

View halaman belakang yang banyak guguran daun bambu, tempat yang nyaman untuk ular bermain, lembab dan basah. 

Saya juga sadar di halaman belakang itu adalah ekosistem sungai, dipastikan di sana ada rantai makanan alami yang sudah terbentuk. Di sana saya tahu ada ular juga, biawak, dll. Nah tikus sendiri adalah makanan dari ular, ular sendiri punya predator alami si biawak. Jadi saya pikir biarlah ini si tikus dapat 'karmanya' sendiri. 

Walaupun saya khawatir si ular datang menghampiri halaman belakang rumah, apes² sampai masuk. Tapi kalau masuk sepertinya tidak karena kan di rumah tidak ada makanan (baca: tikus) karena rumah sudah bebas tikus. Tapi tetap saja khawatir karena pernah kita lihat dua ekor ular tengah menyambangi halaman rumah kami. 

Lanjut ke cerita tadi, jadi dari kegelapan seperti ada yang bergerak, tapi herannya gerakannya lambat, jika tikus biasanya ada gerakan dikit aja dia langsung memanjat dan kabur. 

Saya dekati dan ternyata itu benar tikus, tapi koq gerakannya lambat sekali, bahkan saya sempat dengan mudah menghempaskannya dengan tongkat, setelah terhempas pun dia tidak lari, seperti lemah. Akhirnya saya biarkan dulu, menunggu cahaya matahari bersinar, karena pagi itu masih jam 5 pagi dan masih gelap. 

Tampak luka di bagian ekor si tikus, entah apa itu bisa ular yang mematikannya. Jika hanya terkena tusukan benda tajam pastinya gak akan bikin mati. 

Setelah terang saya lihat di pojokan si tikus masih ada dan malah tergeletak, saya goyang²in dia masih bergerak kejang. Saya amati ini sakit jantung apa gimana si tikus. Saya coba cek badannya dan saya lihat di bagian pantat atau pangkal ekornya ada luka. 

Tikus itu kan hewan kuat ya, kalau luka goresan dikit akibat berkelahi atau apa lah dia masih kuat, tapi ketika lukanya ada racun atau bisa, saya pikir gak akan bertahan lama pasti akan mati. Nah dugaan saya si tikus ini terkena patokan ular, nah karena bisa ular inilah si tikus perlahan mati lemas.

Dimana si tikus ini dipacok ular juga saya tidak tahu, bisa jauh dan bisa juga dekat, tapi kemungkinan si jauh dari lokasi saya menemukannya, saya berpikir habis dipacok itu dia pasti lari kabur menghindar dari bahaya hingga akhirnya bisa saya temukan. 

Daripada si ular datang ya mengambil mangsanya ini, akhirnya saya buang saja itu tikus ke sungai. Biar jadi rebutan biawak dan ular sendiri, biar bertarung sendiri lah mereka. 

Kalau menurut kalian, si tikus ini mati karena apa? 

Kalau racun tikus saya si tidak pernah menggunakannya sama sekali jadinya kalau karena racun tikus rasanya bukan sih, soalnya ada indikasi luka ditubuh tikus itu, perkiraan kejadiannya mungkin menjelang subuh. 

Sayangnya tidak ada otopsi forensik soal rekaan penyebab kematian, jadi pemastiannya tidak bisa 100% pasti karena apa, tapi hanya dugaan saja dari logika kosong. 

Sebuah postingan iseng saja sih ini, just sharing isi waktu diakhir pekan. -cpr

#onedayonepost
#pengalaman
#umum
#tikusmati
Tadinya saya berpikir bahwa polusi udara hanya ada saat ini, ya jaman modern saat ini. Tapi ternyata sudah sejak jaman dulu polusi udara sudah ada. 

Jadi ternyata ilmuwan membuktikan hal lain, bahwa polusi sudah ada sejak dulu. Mereka menemukan jejak² polusi itu terperangkap dalam lapisan es Greenland. Jadi pada masa silam, 2000 tahun lalu, ada efek gas rumah kaca yang terperangkap di dalam lapisan es tersebut. 

Gelembung tersebut mengandung jejak gas metana. Lapisan es murni yang masih terlindungi di Greenland inilah yang jadi sampel para peneliti untuk memperkirakan apa yang terjadi dimasa lalu. 

Ilustrasi, polusi yang terjadi pada jaman peradaban Romawi. Gambar dibantu disiapkan oleh chatgpt

Ternyata, peradaban Bangsa Romawi Kuno pada masanya menjadi penyumbang polusi saat itu. Nah lalu polusi dari mana coba, sedangkan jaman itu tidak ada kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mesin baru ditemukan ratusan abad setelahnya. 

Nah jawabannya ada pada industri logam pada saat itu. Pada masa itu, kerajinan dan benda² logam hasil pandai besi peradaban Romawi sudah sangat masif. Dari proses industri logam itulah polusi dihasilkan. Polusinya adalah polusi timbal. Timbal sangat umum di Roma kuno, termasuk dalam keramik, kosmetik, glasir cat, pipa air, dan sebagai pemanis dalam anggur.

Penambangan dan peleburan perak dari mineral kaya timbal yang disebut galena melepaskan logam beracun tersebut dalam bentuk uap. 

Wabah antonine atau sering juga disebut Wabah Galen—adalah pandemi besar yang menghantam Kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan kaisar Marcus Aurelius dan Lucius Verus.


Wabah ini terjadi pada kisaran tahun 165 - 180 M. 


Peneliti menduga wabah ini adalah cacar atau smallpox,  sering juga dianggap sebagai wabah campak. Hanya waktu itu tidak dipahami secara baik, karena perbendaharaan penyakit pada masa itu tak selengkap saat ini. Wabah ini merebak pada peradaban Romawi. 

Kadar timbal menurun seiring dengan peristiwa penting seperti hilangnya perak dalam koin denarius Romawi dan Wabah Antonine pada tahun 165 M, yang menewaskan sekitar 10% populasi Romawi.

Denarius adalah koin perak paling penting dalam sistem uang Romawi selama berabad-abad. Bisa dibilang ini “standar rupiah”-nya dunia Romawi: dipakai untuk gaji tentara, perdagangan, pajak, sampai hadiah politik.

Denarius berasal dari kata Latin, yang berarti 'bernilai sepuluh'. Karena pada masa rilisnya yaitu abad ke-3 SM, nilainya setara dengan 10 koin perunggu. 

Koin terdiri dari dua sisi, sisi depan atau observe menampilkan wajah tokoh penting, awalnya digambarkan dewa-dewa, hingga wajah kaisar. Sedangkan sisi lainnya (baca: belakang) atau reverse menampilkan gambaran dewi-dewi, simbol kemenangan perang, simbol militer atau pesan propaganda pemerintah. 

Lalu muncul pertanyaan kenapa timbal? 

Bagi masyarakat pada peradaban Romawi, timbal dianggap sama seperti plastik, baja ringan dan bahan kimia serbaguna yang jadi dalam satu paket. Pada masa itu belum diketahui bahaya dan dampak 'racun' dari paparan timbal yang berlebihan bagi tubuh manusia. 

Timbal muncul dari sampingan penambahan perak. Pada masa itu Kekaisaran Romawi punya beberapa tambang, seperti Hispania, Britania dan Balkan. 

Timbal juga dianggap lebih mudah dibentuk karena karakternya yang lunak, mudah dilelehkan dan gampang dibentuk dan dicetak tanpa teknologi yang rumit. Timbal juga tahan korosi, itu kenapa sering digunakan sebagai material pembuatan pipa. 

Itu tadi baru soal polusi udara. Ternyata polusi air juga terjadi dimasa peradaban Romawi. Meskipun Romawi dikenal mempunyai instalasi air yang dibilang maju pada masanya, namun ternyata manusia² Romawi pada masa itu juga punya mental yang serupa dengan mental manusia² 'konoha'. 

Limbah rumah tangga dan kotoran dialirkan melalui selokan besar. Soal sampah² juga dibuang ke jalan, ketika hujan hanyut ke tempat yang lebih rendah. 

Air² hasil pemakaian dari pemandian umum, industri pencelupan kain, dan industri penyamakan kulit ikut mencemari aliran air. 


Seperti yang dibahas di awal tadi, polusi udara banyak disebabkan polusi timbal. Jadi timbal jadi logam yang umum digunakan pada masa itu. Sehingga timbal menjadi limbah yang umum ditemukan di masa itu. 


Jadi kesimpulannya, manusia adalah penyebab sumber limbah. Manusia sejak awal tidak punya pemahaman baik dalam hal pengelolaan limbah, mayoritas banyak yang tidak memahami bagaimana mengelola sampah atau limbah dengan baik. 

Jadi mau itu manusia jaman dulu, sekarang atau masa depan, rasanya akan sama saja. Untuk mengubah kebiasaan manusia memang harus dimulai sejak kecil, sejak anak², manusia harus dikenalkan bagaimana limbah atau sampah diperlakukan. Itu kalau mau dimasa depan, kehidupan atau peradaban bisa hidup dengan sampah dan limbah yang terkelola. 

Tidak ada lagi polusi udara, air dan tanah, alam menjadi asri dan tidak ada lagi kerusakan tanah akibat pencemaran lingkungan akibat sampah dan limbah berbahaya. Belajar dari sejarah itu penting kita lakukan. -cpr

#onedayonepost
#opini
#polusi
#umum
#teori
Beberapa pekan lalu ketika habis olahraga Sabtu saya berkeliling di tempat dimana saya bekerja, beruntung bekerja di perusahaan yang punya lahan terbuka hijau cukup banyak. Kolam² akhir dari hasil proses IPAL dimanfaatkan untuk memelihara ikan, kemudian lahan² terbuka hijau ditanami tanaman² yang menghasilkan bahan pangan. 

Ada kenikir, cabe, terong, sayur salada, sawi dll. Melihat itu saya jadi terpikir juga pengen menanam komoditas lain di lahan terbuka hijau ini. Toh saya pernah berhasil memanen tanaman itu di pekarangan rumah beberapa waktu silam. 


Alhasil hari ini selepas jalan pagi, tugas selesai 5x putaran saya langsung ke area pekarangan belakang, saya cari lahan yang sekiranya gembur untuk ditanami benih atau bibit. 

Ilustrasi, apa yang tengah saya lakukan, harapannya seperti ini, walau itu cuma mimpi belaka tanpa kerja keras

Saya hari ini hanya siapkan dua bibit: tomat cherry dan labu kuning (butternut) yang pernah saya tanam sebelumnya di pekarangan rumah dan berhasil. Kali ini saya mencoba menanamnya di pekarangan pabrik, nampaknya tanah di sini relatif subur, tapi gak tahu juga. 

Soalnya bibit yang saya miliki ini adalah bibit lama, ya sudah beberapa waktu, bahkan mungkin lebih dari setahun lalu bibit ini saya beli, ini sisa yang belum saya tanam sejak saya beli. Jadi entahlah apakah akan menghasilkan tunas ketika ditanam? Sekalian saya buktikan saja sih. Soalnya kalau dulu, ditanam dan tumbuhnya relatif cepat. Bisa dibaca diblog ini soal labu botol, begitu saya menyebutnya. 

Berbekal alat seadanya, besi bekas tulangan beton dan plastik kresek sebagai tempat air untuk siram tanah supaya gembur, lembab dan basah untuk media tanam. 

Metode tanamnya adalah membiarkan mekanisme alam bekerja sebagaimana mestinya, sekaligus melihat bagaimana alam bekerja. Kita lihat apakah dia akan tumbuh menjadi tunas dan akhirnya bisa menghasilkan. Saya juga belum tau tantangan di sini, hamanya seperti apa. Yang saya tahu paling ya semut² tanah biasa. 

Saya akan coba tuliskan updatenya diblog ini, sama seperti dulu ketika saya merawat tanaman labu hingga panen. 

Untuk dokumentasinya ya seperti yang saya bagikan dipostingan ini, terlihat sederhana dan tidak sesuai dengan kaidah² menanam yang umum, karena metodenya bener² pure nature. 

Ini labu madu dimana saya tanam, saya kasi tanda bungkus bibitnya. Nanti Senin akan saya cek lagi perkembangannya

Ini tomat cherry 🍒 nya, saya tanam agak ke dinding pembatas, supaya dia bisa tertahan sama dinding tembok ketika tumbuh. Walaupun cara ini bikin dia dirayapi hama. Tapi kita lihat saja dulu kedepan, apa bisa tumbuh

Semoga cara yang salah ini bisa menghasilkan sesuatu, tapi bukan berarti jika cara yang salah ini dianggap benar jika berhasil, ini hanya soal keberuntungan dan alam yang hebat. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#labumadu
#pengalaman
#menanamdipabrik
#metodealam
Permasalahan 'tenaga kerja' asing yang merecoki pasar lokal tak hanya dialami oleh manusia ternyata, di dunia hewan pun demikian. Lho koq bisa? 

Yang saya maksud adalah ikan sapu². Ikan ini bukan asli dari perairan Indonesia, tetapi dari luar negeri. Berarti tenaga asing bukan? Itu dia kenapa saya sebut 'tenaga kerja' asing tadi, karena memang ikan ini berasal dari luar Indonesia, tepatnya dari Amerika Selatan: lembah sungai Amazon (Brasil, Kolombia, Peru, Venezuela) dan Amerika Tengah (Panama, Kostarika, sebagian Meksiko). 

Ilustrasi disiapkan oleh chatgpt

Ikan ini mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980 / 1990-an, diimpor sebagai ikan hias aquarium. Jenisnya seperti yang saya sebutkan di bawah ini.  

Ikan jenis ini punya beberapa nama spesies latinnya:
🐟 Hypostomus plecostomus (yang umum dipelihara di aquarium hias rumah kita) 
🐟 Ancitrus sp. (ikan sapu² yang berukuran mini) 
🐟 Pterygoplichthys pardalis
🐟 Pterygoplichthys disjunctivus

Dua spesies yang disebutkan terakhir itu yang sering dijumpai di sungai² di Indonesia, yang sering dikatakan sebagai spesies invasif. 

Perbedaannya apa sih ikan sapu² yang di aquarium dan yang di sungai? 

Dari sisi ukuran, ikan sapu² sungai itu cenderung lebih besar, kira² 30-60 cm panjangnya. Siripnya cenderung tinggi seperti layar (membantunya melawan arus sungai). Corak tubuhnya totol dengan pola retakan (dengan guratan kasar). Karakternya agresif jika dibandingkan ikan sapu² aquarium. 

Sedangkan ikan sapu² aquarium meski bisa tumbuh besar, tapi ukurannya umumnya lebih kecil 10-25 cm panjangnya. Sirip lebih pendek dan corak tubuhnya lebih halus. 

Ikan sapu² sungai sering membuat sungai keruh karena karakternya yang agresif menggali dasar lumpur untuk mencari makan dan bersembunyi, sehingga membuat lumpur terangkat dan menjadi keruh. Sifatnya agresif ini cenderung omnivora, pemakan segala, sehingga membuat sumber makanan untuk spesies ikan lokal kalah saing, karena sifat invasifnya ini. 


Jakarta merupakan salah satu daerah yang mengalami peningkatan populasi ikan sapu² di sungai² nya, dimana sungai di Jakarta diisi ikan sapu² lebih banyak dibandingkan ikan lokalnya. Hal ini didukung kondisi sungai² di Jakarta yang terkontaminasi polusi, membuat ikan² lokal akhirnya tidak mampu bertahan. Kondisi seperti ini bisa dimaklumi oleh ikan sapu², sehingga populasinya tetap bertahan bahkan cenderung meningkat. 

Dulu ketika saya di Jakarta, saya berpikir riak atau cipratan, gejolak di sungai di Jakarta itu karena ikan² lokal, saya pikir "wih hebat ya, sungai di Jakarta masih dihuni ikan-ikan lokal".

Ternyata anggapan saya itu salah besar, benar memang di sungai itu ada ikannya, tapi bukan ikan lokal tapi ikan sapu² lah yang ada di sana, nampaknya sih menarik, mengintimidasi kita yang senang mancing untuk memancing, padahal di sana isinya cuma ikan sapu², ikan yang tak punya nilai ekonomis sama sekali. 

Tapi saya dengar banyak juga oknum yang memanfaatkan ikan ini untuk bahan pembuatan bakso², cilok², sebagai pengganti ikan tengiri yang harganya mahal. Padahal sih jelas ikan ini gak layak bahkan tak enak jika dikonsumsi. Tapi banyak juga pedagang nakal yang mengelabui untuk menekan biaya produksi. 

Ikan ini dianggap ikan invasif yang membuat spesies lokal terdampak 'punah'. Sebenarnya menurut saya tidak bisa disalahkan ikan ini juga. Justru perilaku manusia lah yang harus disalahkan. Bukan karena juga manusia yang buang ikan jenis ini ke sungai, iya mereka juga salah tapi bisa juga karena ketidakpahaman. 

Masalah sebenarnya ada pada perilaku manusia yang membuat ekosistem sungai itu rusak dengan cara:
📛 Buang limbah berbahaya baik cair dan padat langsung ke sungai (pemilik² industri) 
📛 Buang sampah ke sungai (rumah tangga) 
📛 Buang apapun yang dianggap tak berharga ke sungai (pribadi orang per orang) 
📛 Hingga buang mayat juga ke sungai (penjahat/kriminal) 
📛 Tidak memanfaatkan sungai sebagaimana fungsinya (masyarakat secara sosial) 

Sungai selama ini dan sejauh ini hanya dianggap jalur otomatis untuk melenyapkan sesuatu, tidak dianggap sebagai bagian dari ekosistem manusia hidup, dimana di sana ara habitat makluk lainnya yang juga punya hak hidup. 


Jika sungai bisa dijaga dengan baik, otomatis sungai ini menjadi layak huni, spesies lokal pasti akan bisa hidup dan tumbuh berkembang di sana, jikapun ada ikan sapu² di sana setidaknya masih bisa berdampingan, karena ikan lokal bisa hidup tanpa polisi. 

Tinggal selanjutnya adalah memberikan sosialisasi yang masif kepada masyarakat soal melepas ikan² yang bukan asalnya ke sungai² lokal dengan alasan apapun, bahkan dengan alasan perikebinatangan sekalipun agar dia hidup bebas di alam liar. Cara ini bukan pilihan tepat karena spesies itu bukan spesies aslinya, sehingga akan ada implikasi dari tindakan tersebut. 

Daripada diinvasi oleh ikan sapu² lebih baik menginvasi sosial media dan masyarakat dengan informasi edukasi soal dampak dari melepas ikan non lokal ke sungai.

Masalah sosialisasi pada masyarakat saja masih kurang koq berharap masyarakat paham. Tidak semua yang melepas ikan sapu² atau ikan predator itu memahami dampak jangka panjangnya, mereka hanya berusaha berpikir pendek daripada membunuh hewan yang telah mereka pelihara, padahal cara itu akan memberikan dampak yang lebih besar. Jadi intinya harus diedukasi sih kalau menurut saya, daripada menyalahkan. 

Yang perlu disalahkan adalah perilaku tadi, yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah atau TPS limbah raksasa. Karena apa, sosialisasi dan edukasi membuang sampah sudah lebih lama disuarakan namun masih saja ada perilaku salah berulang. 

Sedangkan kebiasaan melepas hewan peliharaan ke alam bebas ini baru muncul belakangan sejak semakin luas peredaran atau perdagangan barang (hewan) dari luar negeri masuk ke Indonesia. Tidak sebanyak dulu dibandingkan sekarang, sehingga saat ini hal ini barulah menjadi masalah, sedangkan dulu tidak semasif ini. 

Solusi lainnya, correction action nya ya dengan melakukan penangkapan secara masif terhadap ikan ini, untuk kemudian bisa dimusnahkan atau jadi pupuk fosil dipendem di suatu tempat, dengan memanfaatkan para nelayan misalnya. 

Kemudian memanfaatkan sungai dengan cara yang benar dan menjadikan sungai itu sebagai tempat yang layak untuk dinikmati dengan cara yang lebih modern. 

Jadi ini opini saya menyikapi masifnya ikan sapu² menguasai habitat ikan lokal di sungai² di Indonesia ini. Mungkin kalian punya opini lain menyikapi masalah ikan sapu² ini, bisa share di kolom komentar. -cpr

#onedayonepost
#opini
#umum
#ikansapusapu


Bonus:
Ternyata permasalahan ikan sapu-sapu ini tidak dialami Indonesia saja, Meksiko 🇮🇹 juga mengalami masalah ikan invasif yang berasal dari Amazon, tapi ternyata mereka justru lebih cerdas memanfaatkan ikan ini, dan itu tidak dialami di Indonesia. Di Indonesia justru orang menjualnya untuk pakan manusia, sedangkan di luar negeri dimanfaatkan untuk nilai ekonomis lain. Tonton video ini, dan apakah kamu akan terinspirasi? 





Keputusan yang berat memang tapi mau gimana lagi, akhirnya keputusan ini harus diambil. Karena mama saya lagi stay di rumah (Pandaan), dan sebelumnya 'adik' kami ungsikan ke sini (Pandaan) supaya tidak mengganggu kesehatan orang tua di rumah.


Selama 'adik' di rumah, tinggal bersama saya ya biasa saja, saya sendiri ada komplen tapi bisa menerimanya lah, mengurusnya membersihkan kotoran, bercengkrama dengan bau²an yang kurang sedap, pesingnya, apalagi ketika pup aroma khas pup nya sudah terbiasa di hidung. Sampai² saya sendiri tak menyadari bau itu menempel di pakaian, kendaraan. Tapi saya bisa menerima dan melakukannya dengan biasa saja seperti keseharian. 

Tapi ternyata pasangan saya gak suka, katanya saya bau, dan dianggap kotor dan mengganggu kesehatan dan lain sebagainya. Ditambah mama saya juga komplen baunya mengganggu pernafasan gak bisa tidur. 

Oh iya, saya lupa jelaskan, ini sedang bahas apa. Iya ini lagi bahas peliharaan keluarga kami, Cella yang pernah saya bahas diblog ini juga. 

Belakangan karena mungkin sudah tua juga jadi bau badannya selalu kecium, baru dimandikan bersih, nanti kering bau badanya mulailah kecium. Itu belum kena kencing dan pup. 

Alhasil karena mengganggu penciuman di dalam rumah, mama komplen melulu akhirnya hari ini kita putuskan untuk membuatkan tempat yang proper supaya kandang Cella ini bisa di tempatkan di halaman belakang. 

Sementara ya begini dulu sambil menunggu terpal yang kami pesan selesai dibuat, nanti Selasa. Foto dokumen pribadi

Masalah kekhawatiran di belakang itu soal cuaca (hujan), kalau di bawah itu tampiasan air hujan, banjir kita di belakang kalau debit hujan besar air menggenang bisa kerendem kandangnya bagian bawahnya, belum lagi ada serangga, tikus dan ular.

Kasian juga kan, biasa selama bertahun-tahun hidup bersama di dalam rumah, menjelang akhir usia malah di luar rumah. 

Alhasil diakalin lah itu kita buat kaki² pake bata ringan, kita tumpuk agak tinggi lalu kandangnya kita taruh di atasnya, untuk penutup kandang kita sedang buatkan jahitan terpal, supaya ketika hujan bisa terlindung di dalamnya. Hanya saja menurut saya masih kurang, perlu ada atap karena kalau ditutup begitu saja oke malam hangat, hujan aman, tapi pas siang hari bisa kepanasan banget. 

Saya saja kalau camping di dalam tenda pas panas matahari siang itu di dalamnya kaya sauna, perlu ada celah rongga udara untuk keluar masuk udara segar atau angin. Jadi ya berkaca dari itu untuk kandang Cella ya kita usahakan hindari situasi seperti itu. 

Untuk sementara ya seperti yang bisa dilihat difoto, kini Cella tinggal di belakang. Mudah-mudahan ini bisa nyaman, sejuk di belakang, tapi mudah-mudahan juga gak kedinginan ketika malam. Malam ini jadi malam pertama buat dia di sana, kita akan evaluasi. 

Ini suasana di dalam kandangnya, mudah-mudahan lebih nyaman, udara segar tiap saat. Foto dokumen pribadi. 

Kami berusaha berikan yang terbaik yang kami bisa, ditengah keterbasan kondisi saat ini. Saya sedih saja, ketika berada di lingkungan yang ternyata tidak suka pada hewan, tapi ya mau gimana lagi, Tuhan yang pilihkan ini, mungkin ada pelajaran yang harus saya ambil dengan ini semua. 

Pelajaran berharga, jika kamu suka hewan berkumpulkah dengan circle yang menyukai hewan juga, supaya bisa saling memahami, jika tidak paling akan ada yang dikalahkan atau dikorbankan. Yang paling mungkin dikorbankan adalah hewan peliharaan kita. 

Pelajaran lagi, jangan pelihara hewan peliharaan jika ke depannya kamu akan kesulitan merawatnya. Jika sudah yakin merawat hewan, berarti harus sampai akhir kamu merawatnya, entah kamu dulu yang mati atau hewan peliharaan mu. 

Sudahlah itu saja sharing yang bisa saya bagikan, ini juga adalah sharing uneg³ yang saya rasakan saat ini ketika saya mengetik postingan ini. Semoga Cella baik² saja di belakang dan tidak mengurangi kualitas kesehatannya ke depan. Maafkan kami yang gak bisa berikan hal yang terbaik untuk merawatmu. 

Hanya yang memahami saja yang bisa mengerti, jika tidak memahami lebih baik tidak berkomentar karena bikin sakit hati. -cpr

#onedayonepost
#pet
#pengalaman
#cella
#marcellavonatmosfer
#shitzu