Tadinya saya berpikir bahwa polusi udara hanya ada saat ini, ya jaman modern saat ini. Tapi ternyata sudah sejak jaman dulu polusi udara sudah ada.
Jadi ternyata ilmuwan membuktikan hal lain, bahwa polusi sudah ada sejak dulu. Mereka menemukan jejak² polusi itu terperangkap dalam lapisan es Greenland. Jadi pada masa silam, 2000 tahun lalu, ada efek gas rumah kaca yang terperangkap di dalam lapisan es tersebut.
Gelembung tersebut mengandung jejak gas metana. Lapisan es murni yang masih terlindungi di Greenland inilah yang jadi sampel para peneliti untuk memperkirakan apa yang terjadi dimasa lalu.
Ternyata, peradaban Bangsa Romawi Kuno pada masanya menjadi penyumbang polusi saat itu. Nah lalu polusi dari mana coba, sedangkan jaman itu tidak ada kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mesin baru ditemukan ratusan abad setelahnya.
Nah jawabannya ada pada industri logam pada saat itu. Pada masa itu, kerajinan dan benda² logam hasil pandai besi peradaban Romawi sudah sangat masif. Dari proses industri logam itulah polusi dihasilkan. Polusinya adalah polusi timbal. Timbal sangat umum di Roma kuno, termasuk dalam keramik, kosmetik, glasir cat, pipa air, dan sebagai pemanis dalam anggur.
Penambangan dan peleburan perak dari mineral kaya timbal yang disebut galena melepaskan logam beracun tersebut dalam bentuk uap.
Wabah antonine atau sering juga disebut Wabah Galen—adalah pandemi besar yang menghantam Kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan kaisar Marcus Aurelius dan Lucius Verus.
Wabah ini terjadi pada kisaran tahun 165 - 180 M.
Peneliti menduga wabah ini adalah cacar atau smallpox, sering juga dianggap sebagai wabah campak. Hanya waktu itu tidak dipahami secara baik, karena perbendaharaan penyakit pada masa itu tak selengkap saat ini. Wabah ini merebak pada peradaban Romawi.
Kadar timbal menurun seiring dengan peristiwa penting seperti hilangnya perak dalam koin denarius Romawi dan Wabah Antonine pada tahun 165 M, yang menewaskan sekitar 10% populasi Romawi.
Denarius adalah koin perak paling penting dalam sistem uang Romawi selama berabad-abad. Bisa dibilang ini “standar rupiah”-nya dunia Romawi: dipakai untuk gaji tentara, perdagangan, pajak, sampai hadiah politik.
Denarius berasal dari kata Latin, yang berarti 'bernilai sepuluh'. Karena pada masa rilisnya yaitu abad ke-3 SM, nilainya setara dengan 10 koin perunggu.
Koin terdiri dari dua sisi, sisi depan atau observe menampilkan wajah tokoh penting, awalnya digambarkan dewa-dewa, hingga wajah kaisar. Sedangkan sisi lainnya (baca: belakang) atau reverse menampilkan gambaran dewi-dewi, simbol kemenangan perang, simbol militer atau pesan propaganda pemerintah.
Lalu muncul pertanyaan kenapa timbal?
Bagi masyarakat pada peradaban Romawi, timbal dianggap sama seperti plastik, baja ringan dan bahan kimia serbaguna yang jadi dalam satu paket. Pada masa itu belum diketahui bahaya dan dampak 'racun' dari paparan timbal yang berlebihan bagi tubuh manusia.
Timbal muncul dari sampingan penambahan perak. Pada masa itu Kekaisaran Romawi punya beberapa tambang, seperti Hispania, Britania dan Balkan.
Timbal juga dianggap lebih mudah dibentuk karena karakternya yang lunak, mudah dilelehkan dan gampang dibentuk dan dicetak tanpa teknologi yang rumit. Timbal juga tahan korosi, itu kenapa sering digunakan sebagai material pembuatan pipa.
Itu tadi baru soal polusi udara. Ternyata polusi air juga terjadi dimasa peradaban Romawi. Meskipun Romawi dikenal mempunyai instalasi air yang dibilang maju pada masanya, namun ternyata manusia² Romawi pada masa itu juga punya mental yang serupa dengan mental manusia² 'konoha'.
Limbah rumah tangga dan kotoran dialirkan melalui selokan besar. Soal sampah² juga dibuang ke jalan, ketika hujan hanyut ke tempat yang lebih rendah.
Air² hasil pemakaian dari pemandian umum, industri pencelupan kain, dan industri penyamakan kulit ikut mencemari aliran air.
Seperti yang dibahas di awal tadi, polusi udara banyak disebabkan polusi timbal. Jadi timbal jadi logam yang umum digunakan pada masa itu. Sehingga timbal menjadi limbah yang umum ditemukan di masa itu.
Jadi kesimpulannya, manusia adalah penyebab sumber limbah. Manusia sejak awal tidak punya pemahaman baik dalam hal pengelolaan limbah, mayoritas banyak yang tidak memahami bagaimana mengelola sampah atau limbah dengan baik.
Jadi mau itu manusia jaman dulu, sekarang atau masa depan, rasanya akan sama saja. Untuk mengubah kebiasaan manusia memang harus dimulai sejak kecil, sejak anak², manusia harus dikenalkan bagaimana limbah atau sampah diperlakukan. Itu kalau mau dimasa depan, kehidupan atau peradaban bisa hidup dengan sampah dan limbah yang terkelola.
Tidak ada lagi polusi udara, air dan tanah, alam menjadi asri dan tidak ada lagi kerusakan tanah akibat pencemaran lingkungan akibat sampah dan limbah berbahaya. Belajar dari sejarah itu penting kita lakukan. -cpr
#onedayonepost
#opini
#polusi
#umum
#teori
.png)