Beberapa pekan lalu ketika habis olahraga Sabtu saya berkeliling di tempat dimana saya bekerja, beruntung bekerja di perusahaan yang punya lahan terbuka hijau cukup banyak. Kolam² akhir dari hasil proses IPAL dimanfaatkan untuk memelihara ikan, kemudian lahan² terbuka hijau ditanami tanaman² yang menghasilkan bahan pangan. 

Ada kenikir, cabe, terong, sayur salada, sawi dll. Melihat itu saya jadi terpikir juga pengen menanam komoditas lain di lahan terbuka hijau ini. Toh saya pernah berhasil memanen tanaman itu di pekarangan rumah beberapa waktu silam. 


Alhasil hari ini selepas jalan pagi, tugas selesai 5x putaran saya langsung ke area pekarangan belakang, saya cari lahan yang sekiranya gembur untuk ditanami benih atau bibit. 

Ilustrasi, apa yang tengah saya lakukan, harapannya seperti ini, walau itu cuma mimpi belaka tanpa kerja keras

Saya hari ini hanya siapkan dua bibit: tomat cherry dan labu kuning (butternut) yang pernah saya tanam sebelumnya di pekarangan rumah dan berhasil. Kali ini saya mencoba menanamnya di pekarangan pabrik, nampaknya tanah di sini relatif subur, tapi gak tahu juga. 

Soalnya bibit yang saya miliki ini adalah bibit lama, ya sudah beberapa waktu, bahkan mungkin lebih dari setahun lalu bibit ini saya beli, ini sisa yang belum saya tanam sejak saya beli. Jadi entahlah apakah akan menghasilkan tunas ketika ditanam? Sekalian saya buktikan saja sih. Soalnya kalau dulu, ditanam dan tumbuhnya relatif cepat. Bisa dibaca diblog ini soal labu botol, begitu saya menyebutnya. 

Berbekal alat seadanya, besi bekas tulangan beton dan plastik kresek sebagai tempat air untuk siram tanah supaya gembur, lembab dan basah untuk media tanam. 

Metode tanamnya adalah membiarkan mekanisme alam bekerja sebagaimana mestinya, sekaligus melihat bagaimana alam bekerja. Kita lihat apakah dia akan tumbuh menjadi tunas dan akhirnya bisa menghasilkan. Saya juga belum tau tantangan di sini, hamanya seperti apa. Yang saya tahu paling ya semut² tanah biasa. 

Saya akan coba tuliskan updatenya diblog ini, sama seperti dulu ketika saya merawat tanaman labu hingga panen. 

Untuk dokumentasinya ya seperti yang saya bagikan dipostingan ini, terlihat sederhana dan tidak sesuai dengan kaidah² menanam yang umum, karena metodenya bener² pure nature. 

Ini labu madu dimana saya tanam, saya kasi tanda bungkus bibitnya. Nanti Senin akan saya cek lagi perkembangannya

Ini tomat cherry 🍒 nya, saya tanam agak ke dinding pembatas, supaya dia bisa tertahan sama dinding tembok ketika tumbuh. Walaupun cara ini bikin dia dirayapi hama. Tapi kita lihat saja dulu kedepan, apa bisa tumbuh

Semoga cara yang salah ini bisa menghasilkan sesuatu, tapi bukan berarti jika cara yang salah ini dianggap benar jika berhasil, ini hanya soal keberuntungan dan alam yang hebat. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#labumadu
#pengalaman
#menanamdipabrik
#metodealam
Permasalahan 'tenaga kerja' asing yang merecoki pasar lokal tak hanya dialami oleh manusia ternyata, di dunia hewan pun demikian. Lho koq bisa? 

Yang saya maksud adalah ikan sapu². Ikan ini bukan asli dari perairan Indonesia, tetapi dari luar negeri. Berarti tenaga asing bukan? Itu dia kenapa saya sebut 'tenaga kerja' asing tadi, karena memang ikan ini berasal dari luar Indonesia, tepatnya dari Amerika Selatan: lembah sungai Amazon (Brasil, Kolombia, Peru, Venezuela) dan Amerika Tengah (Panama, Kostarika, sebagian Meksiko). 

Ilustrasi disiapkan oleh chatgpt

Ikan ini mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980 / 1990-an, diimpor sebagai ikan hias aquarium. Jenisnya seperti yang saya sebutkan di bawah ini.  

Ikan jenis ini punya beberapa nama spesies latinnya:
🐟 Hypostomus plecostomus (yang umum dipelihara di aquarium hias rumah kita) 
🐟 Ancitrus sp. (ikan sapu² yang berukuran mini) 
🐟 Pterygoplichthys pardalis
🐟 Pterygoplichthys disjunctivus

Dua spesies yang disebutkan terakhir itu yang sering dijumpai di sungai² di Indonesia, yang sering dikatakan sebagai spesies invasif. 

Perbedaannya apa sih ikan sapu² yang di aquarium dan yang di sungai? 

Dari sisi ukuran, ikan sapu² sungai itu cenderung lebih besar, kira² 30-60 cm panjangnya. Siripnya cenderung tinggi seperti layar (membantunya melawan arus sungai). Corak tubuhnya totol dengan pola retakan (dengan guratan kasar). Karakternya agresif jika dibandingkan ikan sapu² aquarium. 

Sedangkan ikan sapu² aquarium meski bisa tumbuh besar, tapi ukurannya umumnya lebih kecil 10-25 cm panjangnya. Sirip lebih pendek dan corak tubuhnya lebih halus. 

Ikan sapu² sungai sering membuat sungai keruh karena karakternya yang agresif menggali dasar lumpur untuk mencari makan dan bersembunyi, sehingga membuat lumpur terangkat dan menjadi keruh. Sifatnya agresif ini cenderung omnivora, pemakan segala, sehingga membuat sumber makanan untuk spesies ikan lokal kalah saing, karena sifat invasifnya ini. 


Jakarta merupakan salah satu daerah yang mengalami peningkatan populasi ikan sapu² di sungai² nya, dimana sungai di Jakarta diisi ikan sapu² lebih banyak dibandingkan ikan lokalnya. Hal ini didukung kondisi sungai² di Jakarta yang terkontaminasi polusi, membuat ikan² lokal akhirnya tidak mampu bertahan. Kondisi seperti ini bisa dimaklumi oleh ikan sapu², sehingga populasinya tetap bertahan bahkan cenderung meningkat. 

Dulu ketika saya di Jakarta, saya berpikir riak atau cipratan, gejolak di sungai di Jakarta itu karena ikan² lokal, saya pikir "wih hebat ya, sungai di Jakarta masih dihuni ikan-ikan lokal".

Ternyata anggapan saya itu salah besar, benar memang di sungai itu ada ikannya, tapi bukan ikan lokal tapi ikan sapu² lah yang ada di sana, nampaknya sih menarik, mengintimidasi kita yang senang mancing untuk memancing, padahal di sana isinya cuma ikan sapu², ikan yang tak punya nilai ekonomis sama sekali. 

Tapi saya dengar banyak juga oknum yang memanfaatkan ikan ini untuk bahan pembuatan bakso², cilok², sebagai pengganti ikan tengiri yang harganya mahal. Padahal sih jelas ikan ini gak layak bahkan tak enak jika dikonsumsi. Tapi banyak juga pedagang nakal yang mengelabui untuk menekan biaya produksi. 

Ikan ini dianggap ikan invasif yang membuat spesies lokal terdampak 'punah'. Sebenarnya menurut saya tidak bisa disalahkan ikan ini juga. Justru perilaku manusia lah yang harus disalahkan. Bukan karena juga manusia yang buang ikan jenis ini ke sungai, iya mereka juga salah tapi bisa juga karena ketidakpahaman. 

Masalah sebenarnya ada pada perilaku manusia yang membuat ekosistem sungai itu rusak dengan cara:
📛 Buang limbah berbahaya baik cair dan padat langsung ke sungai (pemilik² industri) 
📛 Buang sampah ke sungai (rumah tangga) 
📛 Buang apapun yang dianggap tak berharga ke sungai (pribadi orang per orang) 
📛 Hingga buang mayat juga ke sungai (penjahat/kriminal) 
📛 Tidak memanfaatkan sungai sebagaimana fungsinya (masyarakat secara sosial) 

Sungai selama ini dan sejauh ini hanya dianggap jalur otomatis untuk melenyapkan sesuatu, tidak dianggap sebagai bagian dari ekosistem manusia hidup, dimana di sana ara habitat makluk lainnya yang juga punya hak hidup. 


Jika sungai bisa dijaga dengan baik, otomatis sungai ini menjadi layak huni, spesies lokal pasti akan bisa hidup dan tumbuh berkembang di sana, jikapun ada ikan sapu² di sana setidaknya masih bisa berdampingan, karena ikan lokal bisa hidup tanpa polisi. 

Tinggal selanjutnya adalah memberikan sosialisasi yang masif kepada masyarakat soal melepas ikan² yang bukan asalnya ke sungai² lokal dengan alasan apapun, bahkan dengan alasan perikebinatangan sekalipun agar dia hidup bebas di alam liar. Cara ini bukan pilihan tepat karena spesies itu bukan spesies aslinya, sehingga akan ada implikasi dari tindakan tersebut. 

Daripada diinvasi oleh ikan sapu² lebih baik menginvasi sosial media dan masyarakat dengan informasi edukasi soal dampak dari melepas ikan non lokal ke sungai.

Masalah sosialisasi pada masyarakat saja masih kurang koq berharap masyarakat paham. Tidak semua yang melepas ikan sapu² atau ikan predator itu memahami dampak jangka panjangnya, mereka hanya berusaha berpikir pendek daripada membunuh hewan yang telah mereka pelihara, padahal cara itu akan memberikan dampak yang lebih besar. Jadi intinya harus diedukasi sih kalau menurut saya, daripada menyalahkan. 

Yang perlu disalahkan adalah perilaku tadi, yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah atau TPS limbah raksasa. Karena apa, sosialisasi dan edukasi membuang sampah sudah lebih lama disuarakan namun masih saja ada perilaku salah berulang. 

Sedangkan kebiasaan melepas hewan peliharaan ke alam bebas ini baru muncul belakangan sejak semakin luas peredaran atau perdagangan barang (hewan) dari luar negeri masuk ke Indonesia. Tidak sebanyak dulu dibandingkan sekarang, sehingga saat ini hal ini barulah menjadi masalah, sedangkan dulu tidak semasif ini. 

Solusi lainnya, correction action nya ya dengan melakukan penangkapan secara masif terhadap ikan ini, untuk kemudian bisa dimusnahkan atau jadi pupuk fosil dipendem di suatu tempat, dengan memanfaatkan para nelayan misalnya. 

Kemudian memanfaatkan sungai dengan cara yang benar dan menjadikan sungai itu sebagai tempat yang layak untuk dinikmati dengan cara yang lebih modern. 

Jadi ini opini saya menyikapi masifnya ikan sapu² menguasai habitat ikan lokal di sungai² di Indonesia ini. Mungkin kalian punya opini lain menyikapi masalah ikan sapu² ini, bisa share di kolom komentar. -cpr

#onedayonepost
#opini
#umum
#ikansapusapu
Keputusan yang berat memang tapi mau gimana lagi, akhirnya keputusan ini harus diambil. Karena mama saya lagi stay di rumah (Pandaan), dan sebelumnya 'adik' kami ungsikan ke sini (Pandaan) supaya tidak mengganggu kesehatan orang tua di rumah.


Selama 'adik' di rumah, tinggal bersama saya ya biasa saja, saya sendiri ada komplen tapi bisa menerimanya lah, mengurusnya membersihkan kotoran, bercengkrama dengan bau²an yang kurang sedap, pesingnya, apalagi ketika pup aroma khas pup nya sudah terbiasa di hidung. Sampai² saya sendiri tak menyadari bau itu menempel di pakaian, kendaraan. Tapi saya bisa menerima dan melakukannya dengan biasa saja seperti keseharian. 

Tapi ternyata pasangan saya gak suka, katanya saya bau, dan dianggap kotor dan mengganggu kesehatan dan lain sebagainya. Ditambah mama saya juga komplen baunya mengganggu pernafasan gak bisa tidur. 

Oh iya, saya lupa jelaskan, ini sedang bahas apa. Iya ini lagi bahas peliharaan keluarga kami, Cella yang pernah saya bahas diblog ini juga. 

Belakangan karena mungkin sudah tua juga jadi bau badannya selalu kecium, baru dimandikan bersih, nanti kering bau badanya mulailah kecium. Itu belum kena kencing dan pup. 

Alhasil karena mengganggu penciuman di dalam rumah, mama komplen melulu akhirnya hari ini kita putuskan untuk membuatkan tempat yang proper supaya kandang Cella ini bisa di tempatkan di halaman belakang. 

Sementara ya begini dulu sambil menunggu terpal yang kami pesan selesai dibuat, nanti Selasa. Foto dokumen pribadi

Masalah kekhawatiran di belakang itu soal cuaca (hujan), kalau di bawah itu tampiasan air hujan, banjir kita di belakang kalau debit hujan besar air menggenang bisa kerendem kandangnya bagian bawahnya, belum lagi ada serangga, tikus dan ular.

Kasian juga kan, biasa selama bertahun-tahun hidup bersama di dalam rumah, menjelang akhir usia malah di luar rumah. 

Alhasil diakalin lah itu kita buat kaki² pake bata ringan, kita tumpuk agak tinggi lalu kandangnya kita taruh di atasnya, untuk penutup kandang kita sedang buatkan jahitan terpal, supaya ketika hujan bisa terlindung di dalamnya. Hanya saja menurut saya masih kurang, perlu ada atap karena kalau ditutup begitu saja oke malam hangat, hujan aman, tapi pas siang hari bisa kepanasan banget. 

Saya saja kalau camping di dalam tenda pas panas matahari siang itu di dalamnya kaya sauna, perlu ada celah rongga udara untuk keluar masuk udara segar atau angin. Jadi ya berkaca dari itu untuk kandang Cella ya kita usahakan hindari situasi seperti itu. 

Untuk sementara ya seperti yang bisa dilihat difoto, kini Cella tinggal di belakang. Mudah-mudahan ini bisa nyaman, sejuk di belakang, tapi mudah-mudahan juga gak kedinginan ketika malam. Malam ini jadi malam pertama buat dia di sana, kita akan evaluasi. 

Ini suasana di dalam kandangnya, mudah-mudahan lebih nyaman, udara segar tiap saat. Foto dokumen pribadi. 

Kami berusaha berikan yang terbaik yang kami bisa, ditengah keterbasan kondisi saat ini. Saya sedih saja, ketika berada di lingkungan yang ternyata tidak suka pada hewan, tapi ya mau gimana lagi, Tuhan yang pilihkan ini, mungkin ada pelajaran yang harus saya ambil dengan ini semua. 

Pelajaran berharga, jika kamu suka hewan berkumpulkah dengan circle yang menyukai hewan juga, supaya bisa saling memahami, jika tidak paling akan ada yang dikalahkan atau dikorbankan. Yang paling mungkin dikorbankan adalah hewan peliharaan kita. 

Pelajaran lagi, jangan pelihara hewan peliharaan jika ke depannya kamu akan kesulitan merawatnya. Jika sudah yakin merawat hewan, berarti harus sampai akhir kamu merawatnya, entah kamu dulu yang mati atau hewan peliharaan mu. 

Sudahlah itu saja sharing yang bisa saya bagikan, ini juga adalah sharing uneg³ yang saya rasakan saat ini ketika saya mengetik postingan ini. Semoga Cella baik² saja di belakang dan tidak mengurangi kualitas kesehatannya ke depan. Maafkan kami yang gak bisa berikan hal yang terbaik untuk merawatmu. 

Hanya yang memahami saja yang bisa mengerti, jika tidak memahami lebih baik tidak berkomentar karena bikin sakit hati. -cpr

#onedayonepost
#pet
#pengalaman
#cella
#marcellavonatmosfer
#shitzu
Pelihara hewan peliharaan di usia kanak², remaja hingga dewasa bukan hal yang sulit, tapi ketika dia sudah masuk usia lansia/ senja itu tidaklah mudah. 

Apalagi kalau pet kesayangan kita itu tidak lagi sehat seperti dulu. Pasti akan jadi tantangan tersendiri. Coba bayangkan saja ketika manusia tiba pada masa lansia, pasti lebih sulit, fisiknya tak sama seperti dulu, belum lagi penyakit² yang menyertai. Lalu psikis nya yang lebih rewel daripada ketika muda. 

Ilustrasi Shih-tzu bukan Chella, gambar diambil dari ChatGPT

Ini saya alami pada pet kesayangan keluarga kamu, Chella, seekor shih-tzu betina. Usianya sudah masuk usia lansia untuk anjing. 

Cara hitung usia anjing #1
Tahun pertama usia anjing itu setara dengan 15 tahun usia manusia, tahun kedua usianya 9 tahun usia manusia. Lalu tahun berikutnya (ketiga dan seterusnya) setara dengan 4-5 tahun usia manusia. 

Jadi: anjing usia 2 tahun itu usianya sama dengan 24 tahun usia manusia. Sisa tahun setelahnya tinggal dikalikan 4 atau 5 tahun. 

Chella lahir 10 April 2012 artinya saat ini ditahun 2025 usianya 13 tahun. Jika dihitung dengan rumus usia anjing di atas tadi, maka. 13 tahun - 2 tahun = 11 tahun. Dari 2 tahun usia anjing diperoleh 24 tahun usia manusia. Sisa 11 tahunnya dikalikan 4, diperoleh 44 tahun usia manusia. Hasil akhirnya 24 tahun + 44 tahun = 68 tahun usia manusia. Jadi usia Chella 13 tahun saat ini setara dengan 68 tahun usia manusia. 


Cara hitung usia anjing #2
Berbeda dengan cara hitung yang di atas tadi, kalau ini kamu gak perlu hitung manual. Oh iya ada hal yang perlu diketahui, bahwa Shih-tzu merupakan ras anjing kecil,  dia menua lebih lambat dibandingkan dengan anjing ras besar. Kalau ini kita gak perlu hitung manual, tetapi menggunakan tabel, jadi gak bingung ya lihat tabel, tapi kalau mau tahu hitungan gunakan cara #1.
*Usia Shih-tzu = Setara dengan usia manusia
1 tahun = 15 tahun usia manusia
2 tahun = 24 tahun usia manusia
3 tahun = 28 tahun usia manusia
4 tahun = 32 tahun usia manusia
5 tahun = 36 tahun usia manusia
6 tahun = 40 tahun usia manusia
7 tahun = 44 tahun usia manusia
8 tahun = 48 tahun usia manusia
9 tahun = 52 tahun usia manusia
10 tahun = 56 tahun usia manusia
11 tahun = 60 tahun usia manusia
12 tahun = 64 tahun usia manusia
13 tahun = 68 tahun usia manusia
14 tahun = 72 tahun usia manusia
15 tahun = 76 tahun usia manusia
16 tahun = 80 tahun usia manusia


Berdasarkan literatur yang saya baca, usia maksimal dari Shih-tzu sendiri 12-16 tahun, berarti itu setara 64-80 tahun usia manusia, walaupun ada dibeberapa kasus ada yang sampai usia 18-20 tahun, tapi itu sangat jarang atau 88-96 tahun usia manusia. 

Faktor yang mempengaruhi usia panjang anjing ras Shih-tzu antara lain:
🐕 Genetik dan keturunan (Shih-tzu dengan garis keturunan dan genetik yang sehat umumnya akan berumur relatif panjang. Chella sendiri lahir dari orang tua yang sepertinya sangat dijamin kesehatannya karena melihat dari garis keturunannya dengan nama marga 'von atmosfer') 
🐕 Pola makan (Chella sendiri sejak keluarga kami rawat itu makanannya bervariasi, memang kita bukan keluarga kaya yang bisa selalu memberi makan dog food bergizi. Dulu sewaktu muda, Chella makan nasi, sosis dan campuran daging dan kaldunya. Seiring waktu makin dewasa dia akhirnya diberikan makan dog food hingga kini usia lansianya)
🐕 Perawatan gigi dan bulu (Kalau soal perawatan gigi ini keluarga kami agak kurang, jadi Chella jarang sikat gigi, jadi giginya banyak sudah tanggal. Kalau soal bulu ini masih rutin kita mandikan dan rawat, sehingga jauh dari kutu anjing atau scabies) 
🐕 Olahraga ringan (Kalau soal olahraga ringan, Chella mah anjing yang gak mager, dulu sewaktu muda senang jalan² dan diajak bermain petak umpet, bahkan saat sudah lansia ini dia masih sering jalan, walaupun matanya sudah rabun senja. Jadi meski hanya jalan berputar-putar di titik yang sama, dia senang dan semangat melakukannya, walau jalan dengan terseret-seret karena kakinya sudah tidak bisa memijak sempurna seperti waktu muda) 
🐕 Perawatan rutin ke dokter hewan (Kalau ini memang tidak sering, tapi kami memang memberikan vaksinasi dan pemeriksaan dokter ketika mengalami sakit yang kami tidak bisa atasi) 

Hal lain yang jadi kesimpulan kami keluarga yang merawatnya, kenapa Chella bisa bertahan hingga saat ini:
🐕 Dia mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan sama seperti dia dirawat kaya anak manusia, dia sampai kita anggap sebagai adik bungsu. 
🐕 Dia jarang kita pertemukan dengan anjing² lain, ini menurut saya sebagai usaha mencegah penularan penyakit atau virus atau bakteri yang berbahaya. Karena, ada pengalaman pemelihara Shih-tzu yang tidak pernah bisa bertahan lama memelihara Shih-tzu, rata² mati karena virus. 


Merawat pet kesayangan itu memang gak mudah, harus memang betul² sayang, karena kalau tidak ya kasihan sih pet kita. Yang terjadi adalah ketika muda dia menyenangkan kita, pas lansia karena repot mengurusnya dia malah dibuang atau ditelantarkan di 'panti jompo', itu sih yang bikin gak tega. 

Bahkan ada yang karena tidak suka pada hewan, melihat hal yang merepotkan seperti ini, ada yang berharap cepat mati. 


Saya punya saran apabila ada yang berkeinginan merawat atau memelihara pet, apapun hewannya: pastikan kamu itu bukan tipe orang yang mobile atau senang pergi ke mana-mana, sadari dirimu adalah tipe orang mageran dan gak bosenan. Jika kamu tipe orang gak betah di rumah, bosenan, jangan pernah pelihara pet di rumah mu. 

Karena begini, memelihara pet itu harus penuh di pantai dan diurus, gak bisa kamu seenaknya pergi meninggalkannya di rumah begitu saja. Lalu siapa yang akan membersihkannya, memberikan makan atau minumnya. 

Ini pelajaran banget, karena seperti sekarang saya gak bisa ke mana-mana, karena saya harus terpaku untuk mengurusinya, apalagi diusia Chella yang sudah senja. Bersihkan pup nya, pis nya, belum lagi diusia senja ini dia itu buta, kakinya tidak bisa jalan sempurna, untuk jaga kebugarannya kita juga harus rajin taruh dia di tempat terbuka supaya dia berjalan agar otot kakinya tetap dipakai bergerak. 

Entah sampai kapan? Ya sampai usianya usai nanti, kapan nya tidak akan ada yang tahu, yang penting kita urus dan rawat dia dengan baik, itu saja sih. 

Catatan ini adalah sekedar sharing dan berbagi pengalaman saja, mungkin bisa berbeda-beda, tapi satu yang sama, rawatlah pet kesayangan mu dengan hati, perlakukan dia dengan baik meskipun dia adalah hewan. 

Segitu saja sharing² nya, sampai jumpa dipostingan lainnya lagi. Jaga pet kesayanganmu dan rawatlah dengan hati. Jika ada pasanganmu yang senang pada hewan, supportlah, karena sama hewan aja sayang apalagi sama manusia. -cpr

#onedayonepost
#pet
#umum
#pengalaman
#pet
#shihtzu
Pernah gak sih bertanya, pas siang hari itu panasnya ampun², teriknya ke kulit itu rasanya seperti kaya menyayat kulit. Tetapi pas sore hari, cahaya matahari masih terang namun radiasi panasnya jauh berkurang. Itu kenapa bisa begitu? 

Padahal matahari yang sama yang tadi siang 'membakar' kulit mu. Kenapa pas sore atau pagi hari teriknya masih bisa diterima kulit kita, sedangkan siang tidak? 

Jawabannya adalah? 

Ilustrasi, matahari di ufuk, sore/pagi. Gambar diambil dari Google

Logika ternyata, yaitu sudut pancar sinar matahari itu sendiri, karena ketika pagi dan sore, matahari itu condong berasa di wilayah ufuk, kalau pagi di ufuk timur dan sore di ufuk barat, nah sudut kemiringan ufuk inilah yang membuat pancaran sinar matahari jadi lebih jauh ke titik terimanya di bumi. Sedangkan pada siang hari sudutnya tegak lurus sehingga pancaran matahari terasa langsung. 

Kemiringan sudut pancar sinar matahari ini juga harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, plus lebih jauh seperti yang dijelaskan sebelumnya. Semakin mengurangi dampak radiasi pancaran sinar matahari. 

Radiasi panas matahari terserap dan menyebar oleh molekul² udara sehingga intensitas radiasi yang kita rasakan itu jauh berkurang. Ini berbeda ketika matahari pada siang hari, jaraknya yang pendek membuat molukul² udara tidak mampu menyerap dan menyebarkan radiasi panas yang ada. 

Kemudian paparan sinar matahari pada saat siang hari itu lebih lama, setelah melewati sudut kemiringan (pagi) sekitar jam 9 ke atas, hingga jam 4 sore, total ada 7 jam potensi sinar matahari menyorot langsung. Sedangkan pagi hari hanya 3,5 jam dan sore hari hanya 2 jam. Paparan panas sinar matahari yang langsung ke bumi ini membuat suhu bumi jadi panas, kemudian terpantul lagi ke udara sehingga membuat sensasi siang hari lebih panas. 


Begitulah kira² logikanya ya, entahlah ini logikanya bener apa tidak, karena logika saya sering diluar mainstream, jadi bisa saja salah, tapi secara awam sih masih masuk akal. 

Hanya awan mendung sajalah yang mampu menahan paparan sinar matahari ini. Oh bisa juga ditahan oleh bulan pas gerhana walau waktunya gak lama. Tapi misalkan  lagi mendung itu bisa relatif lebih lama pancaran cahaya matahari tertahan tidak menjangkau bumi, dan kita akan terlindung dari sengat panas matahari. 

Sinar matahari yang terik ini hanya cocok untuk ngisi daya panel surya, fotosintesis, mengeringkan gabah petani, ngeringin jemuran, pengering alami untuk berbagai macam hal, membunuh kuman² penyakit yang kalah dengan sinar UV dan hal² lain yang membutuhkan itu. 

Tapi buat manusia, kulit manusia, cahaya matahari gak ada baik² nya *menurut saya. Matahari hanya merusak kulit saja, bikin hitam dan membuat sel kulit mati, bahkan bisa kena kanker kulit jika kena radiasi sinar matahari yang full saat siang hari. Cahaya matahari yang baik hanya pagi hari, sisanya mematikan. 

Tapi jika bumi tanpa matahari akan repot juga, kiamat di depan mata. Lalu apa solusinya, ya musim berjalan dengan normal, ada kalanya panas dan ada kalanya hujan, jika semuanya seimbang, saya kira akan baik. 

Segitu saja pembahasan soal pancaran sinar matahari siang dan pagi/sore itu berbeda, mudah-mudahan bisa menjawab kegelisahan selama ini. Sampai jumpa pada postingan berikutnya, membahas hal lainnya yang menarik untuk saya bahas. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#umum
#radiasimatahari
#siangpanas
#soreadem
#pagiadem