Tadinya saya berpikir bahwa polusi udara hanya ada saat ini, ya jaman modern saat ini. Tapi ternyata sudah sejak jaman dulu polusi udara sudah ada. 

Jadi ternyata ilmuwan membuktikan hal lain, bahwa polusi sudah ada sejak dulu. Mereka menemukan jejak² polusi itu terperangkap dalam lapisan es Greenland. Jadi pada masa silam, 2000 tahun lalu, ada efek gas rumah kaca yang terperangkap di dalam lapisan es tersebut. 

Gelembung tersebut mengandung jejak gas metana. Lapisan es murni yang masih terlindungi di Greenland inilah yang jadi sampel para peneliti untuk memperkirakan apa yang terjadi dimasa lalu. 

Ilustrasi, polusi yang terjadi pada jaman peradaban Romawi. Gambar dibantu disiapkan oleh chatgpt

Ternyata, peradaban Bangsa Romawi Kuno pada masanya menjadi penyumbang polusi saat itu. Nah lalu polusi dari mana coba, sedangkan jaman itu tidak ada kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mesin baru ditemukan ratusan abad setelahnya. 

Nah jawabannya ada pada industri logam pada saat itu. Pada masa itu, kerajinan dan benda² logam hasil pandai besi peradaban Romawi sudah sangat masif. Dari proses industri logam itulah polusi dihasilkan. Polusinya adalah polusi timbal. Timbal sangat umum di Roma kuno, termasuk dalam keramik, kosmetik, glasir cat, pipa air, dan sebagai pemanis dalam anggur.

Penambangan dan peleburan perak dari mineral kaya timbal yang disebut galena melepaskan logam beracun tersebut dalam bentuk uap. 

Wabah antonine atau sering juga disebut Wabah Galen—adalah pandemi besar yang menghantam Kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan kaisar Marcus Aurelius dan Lucius Verus.


Wabah ini terjadi pada kisaran tahun 165 - 180 M. 


Peneliti menduga wabah ini adalah cacar atau smallpox,  sering juga dianggap sebagai wabah campak. Hanya waktu itu tidak dipahami secara baik, karena perbendaharaan penyakit pada masa itu tak selengkap saat ini. Wabah ini merebak pada peradaban Romawi. 

Kadar timbal menurun seiring dengan peristiwa penting seperti hilangnya perak dalam koin denarius Romawi dan Wabah Antonine pada tahun 165 M, yang menewaskan sekitar 10% populasi Romawi.

Denarius adalah koin perak paling penting dalam sistem uang Romawi selama berabad-abad. Bisa dibilang ini “standar rupiah”-nya dunia Romawi: dipakai untuk gaji tentara, perdagangan, pajak, sampai hadiah politik.

Denarius berasal dari kata Latin, yang berarti 'bernilai sepuluh'. Karena pada masa rilisnya yaitu abad ke-3 SM, nilainya setara dengan 10 koin perunggu. 

Koin terdiri dari dua sisi, sisi depan atau observe menampilkan wajah tokoh penting, awalnya digambarkan dewa-dewa, hingga wajah kaisar. Sedangkan sisi lainnya (baca: belakang) atau reverse menampilkan gambaran dewi-dewi, simbol kemenangan perang, simbol militer atau pesan propaganda pemerintah. 

Lalu muncul pertanyaan kenapa timbal? 

Bagi masyarakat pada peradaban Romawi, timbal dianggap sama seperti plastik, baja ringan dan bahan kimia serbaguna yang jadi dalam satu paket. Pada masa itu belum diketahui bahaya dan dampak 'racun' dari paparan timbal yang berlebihan bagi tubuh manusia. 

Timbal muncul dari sampingan penambahan perak. Pada masa itu Kekaisaran Romawi punya beberapa tambang, seperti Hispania, Britania dan Balkan. 

Timbal juga dianggap lebih mudah dibentuk karena karakternya yang lunak, mudah dilelehkan dan gampang dibentuk dan dicetak tanpa teknologi yang rumit. Timbal juga tahan korosi, itu kenapa sering digunakan sebagai material pembuatan pipa. 

Itu tadi baru soal polusi udara. Ternyata polusi air juga terjadi dimasa peradaban Romawi. Meskipun Romawi dikenal mempunyai instalasi air yang dibilang maju pada masanya, namun ternyata manusia² Romawi pada masa itu juga punya mental yang serupa dengan mental manusia² 'konoha'. 

Limbah rumah tangga dan kotoran dialirkan melalui selokan besar. Soal sampah² juga dibuang ke jalan, ketika hujan hanyut ke tempat yang lebih rendah. 

Air² hasil pemakaian dari pemandian umum, industri pencelupan kain, dan industri penyamakan kulit ikut mencemari aliran air. 


Seperti yang dibahas di awal tadi, polusi udara banyak disebabkan polusi timbal. Jadi timbal jadi logam yang umum digunakan pada masa itu. Sehingga timbal menjadi limbah yang umum ditemukan di masa itu. 


Jadi kesimpulannya, manusia adalah penyebab sumber limbah. Manusia sejak awal tidak punya pemahaman baik dalam hal pengelolaan limbah, mayoritas banyak yang tidak memahami bagaimana mengelola sampah atau limbah dengan baik. 

Jadi mau itu manusia jaman dulu, sekarang atau masa depan, rasanya akan sama saja. Untuk mengubah kebiasaan manusia memang harus dimulai sejak kecil, sejak anak², manusia harus dikenalkan bagaimana limbah atau sampah diperlakukan. Itu kalau mau dimasa depan, kehidupan atau peradaban bisa hidup dengan sampah dan limbah yang terkelola. 

Tidak ada lagi polusi udara, air dan tanah, alam menjadi asri dan tidak ada lagi kerusakan tanah akibat pencemaran lingkungan akibat sampah dan limbah berbahaya. Belajar dari sejarah itu penting kita lakukan. -cpr

#onedayonepost
#opini
#polusi
#umum
#teori
Beberapa pekan lalu ketika habis olahraga Sabtu saya berkeliling di tempat dimana saya bekerja, beruntung bekerja di perusahaan yang punya lahan terbuka hijau cukup banyak. Kolam² akhir dari hasil proses IPAL dimanfaatkan untuk memelihara ikan, kemudian lahan² terbuka hijau ditanami tanaman² yang menghasilkan bahan pangan. 

Ada kenikir, cabe, terong, sayur salada, sawi dll. Melihat itu saya jadi terpikir juga pengen menanam komoditas lain di lahan terbuka hijau ini. Toh saya pernah berhasil memanen tanaman itu di pekarangan rumah beberapa waktu silam. 


Alhasil hari ini selepas jalan pagi, tugas selesai 5x putaran saya langsung ke area pekarangan belakang, saya cari lahan yang sekiranya gembur untuk ditanami benih atau bibit. 

Ilustrasi, apa yang tengah saya lakukan, harapannya seperti ini, walau itu cuma mimpi belaka tanpa kerja keras

Saya hari ini hanya siapkan dua bibit: tomat cherry dan labu kuning (butternut) yang pernah saya tanam sebelumnya di pekarangan rumah dan berhasil. Kali ini saya mencoba menanamnya di pekarangan pabrik, nampaknya tanah di sini relatif subur, tapi gak tahu juga. 

Soalnya bibit yang saya miliki ini adalah bibit lama, ya sudah beberapa waktu, bahkan mungkin lebih dari setahun lalu bibit ini saya beli, ini sisa yang belum saya tanam sejak saya beli. Jadi entahlah apakah akan menghasilkan tunas ketika ditanam? Sekalian saya buktikan saja sih. Soalnya kalau dulu, ditanam dan tumbuhnya relatif cepat. Bisa dibaca diblog ini soal labu botol, begitu saya menyebutnya. 

Berbekal alat seadanya, besi bekas tulangan beton dan plastik kresek sebagai tempat air untuk siram tanah supaya gembur, lembab dan basah untuk media tanam. 

Metode tanamnya adalah membiarkan mekanisme alam bekerja sebagaimana mestinya, sekaligus melihat bagaimana alam bekerja. Kita lihat apakah dia akan tumbuh menjadi tunas dan akhirnya bisa menghasilkan. Saya juga belum tau tantangan di sini, hamanya seperti apa. Yang saya tahu paling ya semut² tanah biasa. 

Saya akan coba tuliskan updatenya diblog ini, sama seperti dulu ketika saya merawat tanaman labu hingga panen. 

Untuk dokumentasinya ya seperti yang saya bagikan dipostingan ini, terlihat sederhana dan tidak sesuai dengan kaidah² menanam yang umum, karena metodenya bener² pure nature. 

Ini labu madu dimana saya tanam, saya kasi tanda bungkus bibitnya. Nanti Senin akan saya cek lagi perkembangannya

Ini tomat cherry 🍒 nya, saya tanam agak ke dinding pembatas, supaya dia bisa tertahan sama dinding tembok ketika tumbuh. Walaupun cara ini bikin dia dirayapi hama. Tapi kita lihat saja dulu kedepan, apa bisa tumbuh

Semoga cara yang salah ini bisa menghasilkan sesuatu, tapi bukan berarti jika cara yang salah ini dianggap benar jika berhasil, ini hanya soal keberuntungan dan alam yang hebat. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#labumadu
#pengalaman
#menanamdipabrik
#metodealam
Permasalahan 'tenaga kerja' asing yang merecoki pasar lokal tak hanya dialami oleh manusia ternyata, di dunia hewan pun demikian. Lho koq bisa? 

Yang saya maksud adalah ikan sapu². Ikan ini bukan asli dari perairan Indonesia, tetapi dari luar negeri. Berarti tenaga asing bukan? Itu dia kenapa saya sebut 'tenaga kerja' asing tadi, karena memang ikan ini berasal dari luar Indonesia, tepatnya dari Amerika Selatan: lembah sungai Amazon (Brasil, Kolombia, Peru, Venezuela) dan Amerika Tengah (Panama, Kostarika, sebagian Meksiko). 

Ilustrasi disiapkan oleh chatgpt

Ikan ini mulai masuk Indonesia sekitar tahun 1980 / 1990-an, diimpor sebagai ikan hias aquarium. Jenisnya seperti yang saya sebutkan di bawah ini.  

Ikan jenis ini punya beberapa nama spesies latinnya:
🐟 Hypostomus plecostomus (yang umum dipelihara di aquarium hias rumah kita) 
🐟 Ancitrus sp. (ikan sapu² yang berukuran mini) 
🐟 Pterygoplichthys pardalis
🐟 Pterygoplichthys disjunctivus

Dua spesies yang disebutkan terakhir itu yang sering dijumpai di sungai² di Indonesia, yang sering dikatakan sebagai spesies invasif. 

Perbedaannya apa sih ikan sapu² yang di aquarium dan yang di sungai? 

Dari sisi ukuran, ikan sapu² sungai itu cenderung lebih besar, kira² 30-60 cm panjangnya. Siripnya cenderung tinggi seperti layar (membantunya melawan arus sungai). Corak tubuhnya totol dengan pola retakan (dengan guratan kasar). Karakternya agresif jika dibandingkan ikan sapu² aquarium. 

Sedangkan ikan sapu² aquarium meski bisa tumbuh besar, tapi ukurannya umumnya lebih kecil 10-25 cm panjangnya. Sirip lebih pendek dan corak tubuhnya lebih halus. 

Ikan sapu² sungai sering membuat sungai keruh karena karakternya yang agresif menggali dasar lumpur untuk mencari makan dan bersembunyi, sehingga membuat lumpur terangkat dan menjadi keruh. Sifatnya agresif ini cenderung omnivora, pemakan segala, sehingga membuat sumber makanan untuk spesies ikan lokal kalah saing, karena sifat invasifnya ini. 


Jakarta merupakan salah satu daerah yang mengalami peningkatan populasi ikan sapu² di sungai² nya, dimana sungai di Jakarta diisi ikan sapu² lebih banyak dibandingkan ikan lokalnya. Hal ini didukung kondisi sungai² di Jakarta yang terkontaminasi polusi, membuat ikan² lokal akhirnya tidak mampu bertahan. Kondisi seperti ini bisa dimaklumi oleh ikan sapu², sehingga populasinya tetap bertahan bahkan cenderung meningkat. 

Dulu ketika saya di Jakarta, saya berpikir riak atau cipratan, gejolak di sungai di Jakarta itu karena ikan² lokal, saya pikir "wih hebat ya, sungai di Jakarta masih dihuni ikan-ikan lokal".

Ternyata anggapan saya itu salah besar, benar memang di sungai itu ada ikannya, tapi bukan ikan lokal tapi ikan sapu² lah yang ada di sana, nampaknya sih menarik, mengintimidasi kita yang senang mancing untuk memancing, padahal di sana isinya cuma ikan sapu², ikan yang tak punya nilai ekonomis sama sekali. 

Tapi saya dengar banyak juga oknum yang memanfaatkan ikan ini untuk bahan pembuatan bakso², cilok², sebagai pengganti ikan tengiri yang harganya mahal. Padahal sih jelas ikan ini gak layak bahkan tak enak jika dikonsumsi. Tapi banyak juga pedagang nakal yang mengelabui untuk menekan biaya produksi. 

Ikan ini dianggap ikan invasif yang membuat spesies lokal terdampak 'punah'. Sebenarnya menurut saya tidak bisa disalahkan ikan ini juga. Justru perilaku manusia lah yang harus disalahkan. Bukan karena juga manusia yang buang ikan jenis ini ke sungai, iya mereka juga salah tapi bisa juga karena ketidakpahaman. 

Masalah sebenarnya ada pada perilaku manusia yang membuat ekosistem sungai itu rusak dengan cara:
📛 Buang limbah berbahaya baik cair dan padat langsung ke sungai (pemilik² industri) 
📛 Buang sampah ke sungai (rumah tangga) 
📛 Buang apapun yang dianggap tak berharga ke sungai (pribadi orang per orang) 
📛 Hingga buang mayat juga ke sungai (penjahat/kriminal) 
📛 Tidak memanfaatkan sungai sebagaimana fungsinya (masyarakat secara sosial) 

Sungai selama ini dan sejauh ini hanya dianggap jalur otomatis untuk melenyapkan sesuatu, tidak dianggap sebagai bagian dari ekosistem manusia hidup, dimana di sana ara habitat makluk lainnya yang juga punya hak hidup. 


Jika sungai bisa dijaga dengan baik, otomatis sungai ini menjadi layak huni, spesies lokal pasti akan bisa hidup dan tumbuh berkembang di sana, jikapun ada ikan sapu² di sana setidaknya masih bisa berdampingan, karena ikan lokal bisa hidup tanpa polisi. 

Tinggal selanjutnya adalah memberikan sosialisasi yang masif kepada masyarakat soal melepas ikan² yang bukan asalnya ke sungai² lokal dengan alasan apapun, bahkan dengan alasan perikebinatangan sekalipun agar dia hidup bebas di alam liar. Cara ini bukan pilihan tepat karena spesies itu bukan spesies aslinya, sehingga akan ada implikasi dari tindakan tersebut. 

Daripada diinvasi oleh ikan sapu² lebih baik menginvasi sosial media dan masyarakat dengan informasi edukasi soal dampak dari melepas ikan non lokal ke sungai.

Masalah sosialisasi pada masyarakat saja masih kurang koq berharap masyarakat paham. Tidak semua yang melepas ikan sapu² atau ikan predator itu memahami dampak jangka panjangnya, mereka hanya berusaha berpikir pendek daripada membunuh hewan yang telah mereka pelihara, padahal cara itu akan memberikan dampak yang lebih besar. Jadi intinya harus diedukasi sih kalau menurut saya, daripada menyalahkan. 

Yang perlu disalahkan adalah perilaku tadi, yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah atau TPS limbah raksasa. Karena apa, sosialisasi dan edukasi membuang sampah sudah lebih lama disuarakan namun masih saja ada perilaku salah berulang. 

Sedangkan kebiasaan melepas hewan peliharaan ke alam bebas ini baru muncul belakangan sejak semakin luas peredaran atau perdagangan barang (hewan) dari luar negeri masuk ke Indonesia. Tidak sebanyak dulu dibandingkan sekarang, sehingga saat ini hal ini barulah menjadi masalah, sedangkan dulu tidak semasif ini. 

Solusi lainnya, correction action nya ya dengan melakukan penangkapan secara masif terhadap ikan ini, untuk kemudian bisa dimusnahkan atau jadi pupuk fosil dipendem di suatu tempat, dengan memanfaatkan para nelayan misalnya. 

Kemudian memanfaatkan sungai dengan cara yang benar dan menjadikan sungai itu sebagai tempat yang layak untuk dinikmati dengan cara yang lebih modern. 

Jadi ini opini saya menyikapi masifnya ikan sapu² menguasai habitat ikan lokal di sungai² di Indonesia ini. Mungkin kalian punya opini lain menyikapi masalah ikan sapu² ini, bisa share di kolom komentar. -cpr

#onedayonepost
#opini
#umum
#ikansapusapu


Bonus:
Ternyata permasalahan ikan sapu-sapu ini tidak dialami Indonesia saja, Meksiko 🇮🇹 juga mengalami masalah ikan invasif yang berasal dari Amazon, tapi ternyata mereka justru lebih cerdas memanfaatkan ikan ini, dan itu tidak dialami di Indonesia. Di Indonesia justru orang menjualnya untuk pakan manusia, sedangkan di luar negeri dimanfaatkan untuk nilai ekonomis lain. Tonton video ini, dan apakah kamu akan terinspirasi? 





Keputusan yang berat memang tapi mau gimana lagi, akhirnya keputusan ini harus diambil. Karena mama saya lagi stay di rumah (Pandaan), dan sebelumnya 'adik' kami ungsikan ke sini (Pandaan) supaya tidak mengganggu kesehatan orang tua di rumah.


Selama 'adik' di rumah, tinggal bersama saya ya biasa saja, saya sendiri ada komplen tapi bisa menerimanya lah, mengurusnya membersihkan kotoran, bercengkrama dengan bau²an yang kurang sedap, pesingnya, apalagi ketika pup aroma khas pup nya sudah terbiasa di hidung. Sampai² saya sendiri tak menyadari bau itu menempel di pakaian, kendaraan. Tapi saya bisa menerima dan melakukannya dengan biasa saja seperti keseharian. 

Tapi ternyata pasangan saya gak suka, katanya saya bau, dan dianggap kotor dan mengganggu kesehatan dan lain sebagainya. Ditambah mama saya juga komplen baunya mengganggu pernafasan gak bisa tidur. 

Oh iya, saya lupa jelaskan, ini sedang bahas apa. Iya ini lagi bahas peliharaan keluarga kami, Cella yang pernah saya bahas diblog ini juga. 

Belakangan karena mungkin sudah tua juga jadi bau badannya selalu kecium, baru dimandikan bersih, nanti kering bau badanya mulailah kecium. Itu belum kena kencing dan pup. 

Alhasil karena mengganggu penciuman di dalam rumah, mama komplen melulu akhirnya hari ini kita putuskan untuk membuatkan tempat yang proper supaya kandang Cella ini bisa di tempatkan di halaman belakang. 

Sementara ya begini dulu sambil menunggu terpal yang kami pesan selesai dibuat, nanti Selasa. Foto dokumen pribadi

Masalah kekhawatiran di belakang itu soal cuaca (hujan), kalau di bawah itu tampiasan air hujan, banjir kita di belakang kalau debit hujan besar air menggenang bisa kerendem kandangnya bagian bawahnya, belum lagi ada serangga, tikus dan ular.

Kasian juga kan, biasa selama bertahun-tahun hidup bersama di dalam rumah, menjelang akhir usia malah di luar rumah. 

Alhasil diakalin lah itu kita buat kaki² pake bata ringan, kita tumpuk agak tinggi lalu kandangnya kita taruh di atasnya, untuk penutup kandang kita sedang buatkan jahitan terpal, supaya ketika hujan bisa terlindung di dalamnya. Hanya saja menurut saya masih kurang, perlu ada atap karena kalau ditutup begitu saja oke malam hangat, hujan aman, tapi pas siang hari bisa kepanasan banget. 

Saya saja kalau camping di dalam tenda pas panas matahari siang itu di dalamnya kaya sauna, perlu ada celah rongga udara untuk keluar masuk udara segar atau angin. Jadi ya berkaca dari itu untuk kandang Cella ya kita usahakan hindari situasi seperti itu. 

Untuk sementara ya seperti yang bisa dilihat difoto, kini Cella tinggal di belakang. Mudah-mudahan ini bisa nyaman, sejuk di belakang, tapi mudah-mudahan juga gak kedinginan ketika malam. Malam ini jadi malam pertama buat dia di sana, kita akan evaluasi. 

Ini suasana di dalam kandangnya, mudah-mudahan lebih nyaman, udara segar tiap saat. Foto dokumen pribadi. 

Kami berusaha berikan yang terbaik yang kami bisa, ditengah keterbasan kondisi saat ini. Saya sedih saja, ketika berada di lingkungan yang ternyata tidak suka pada hewan, tapi ya mau gimana lagi, Tuhan yang pilihkan ini, mungkin ada pelajaran yang harus saya ambil dengan ini semua. 

Pelajaran berharga, jika kamu suka hewan berkumpulkah dengan circle yang menyukai hewan juga, supaya bisa saling memahami, jika tidak paling akan ada yang dikalahkan atau dikorbankan. Yang paling mungkin dikorbankan adalah hewan peliharaan kita. 

Pelajaran lagi, jangan pelihara hewan peliharaan jika ke depannya kamu akan kesulitan merawatnya. Jika sudah yakin merawat hewan, berarti harus sampai akhir kamu merawatnya, entah kamu dulu yang mati atau hewan peliharaan mu. 

Sudahlah itu saja sharing yang bisa saya bagikan, ini juga adalah sharing uneg³ yang saya rasakan saat ini ketika saya mengetik postingan ini. Semoga Cella baik² saja di belakang dan tidak mengurangi kualitas kesehatannya ke depan. Maafkan kami yang gak bisa berikan hal yang terbaik untuk merawatmu. 

Hanya yang memahami saja yang bisa mengerti, jika tidak memahami lebih baik tidak berkomentar karena bikin sakit hati. -cpr

#onedayonepost
#pet
#pengalaman
#cella
#marcellavonatmosfer
#shitzu
Pelihara hewan peliharaan di usia kanak², remaja hingga dewasa bukan hal yang sulit, tapi ketika dia sudah masuk usia lansia/ senja itu tidaklah mudah. 

Apalagi kalau pet kesayangan kita itu tidak lagi sehat seperti dulu. Pasti akan jadi tantangan tersendiri. Coba bayangkan saja ketika manusia tiba pada masa lansia, pasti lebih sulit, fisiknya tak sama seperti dulu, belum lagi penyakit² yang menyertai. Lalu psikis nya yang lebih rewel daripada ketika muda. 

Ilustrasi Shih-tzu bukan Chella, gambar diambil dari ChatGPT

Ini saya alami pada pet kesayangan keluarga kamu, Chella, seekor shih-tzu betina. Usianya sudah masuk usia lansia untuk anjing. 

Cara hitung usia anjing #1
Tahun pertama usia anjing itu setara dengan 15 tahun usia manusia, tahun kedua usianya 9 tahun usia manusia. Lalu tahun berikutnya (ketiga dan seterusnya) setara dengan 4-5 tahun usia manusia. 

Jadi: anjing usia 2 tahun itu usianya sama dengan 24 tahun usia manusia. Sisa tahun setelahnya tinggal dikalikan 4 atau 5 tahun. 

Chella lahir 10 April 2012 artinya saat ini ditahun 2025 usianya 13 tahun. Jika dihitung dengan rumus usia anjing di atas tadi, maka. 13 tahun - 2 tahun = 11 tahun. Dari 2 tahun usia anjing diperoleh 24 tahun usia manusia. Sisa 11 tahunnya dikalikan 4, diperoleh 44 tahun usia manusia. Hasil akhirnya 24 tahun + 44 tahun = 68 tahun usia manusia. Jadi usia Chella 13 tahun saat ini setara dengan 68 tahun usia manusia. 


Cara hitung usia anjing #2
Berbeda dengan cara hitung yang di atas tadi, kalau ini kamu gak perlu hitung manual. Oh iya ada hal yang perlu diketahui, bahwa Shih-tzu merupakan ras anjing kecil,  dia menua lebih lambat dibandingkan dengan anjing ras besar. Kalau ini kita gak perlu hitung manual, tetapi menggunakan tabel, jadi gak bingung ya lihat tabel, tapi kalau mau tahu hitungan gunakan cara #1.
*Usia Shih-tzu = Setara dengan usia manusia
1 tahun = 15 tahun usia manusia
2 tahun = 24 tahun usia manusia
3 tahun = 28 tahun usia manusia
4 tahun = 32 tahun usia manusia
5 tahun = 36 tahun usia manusia
6 tahun = 40 tahun usia manusia
7 tahun = 44 tahun usia manusia
8 tahun = 48 tahun usia manusia
9 tahun = 52 tahun usia manusia
10 tahun = 56 tahun usia manusia
11 tahun = 60 tahun usia manusia
12 tahun = 64 tahun usia manusia
13 tahun = 68 tahun usia manusia
14 tahun = 72 tahun usia manusia
15 tahun = 76 tahun usia manusia
16 tahun = 80 tahun usia manusia


Berdasarkan literatur yang saya baca, usia maksimal dari Shih-tzu sendiri 12-16 tahun, berarti itu setara 64-80 tahun usia manusia, walaupun ada dibeberapa kasus ada yang sampai usia 18-20 tahun, tapi itu sangat jarang atau 88-96 tahun usia manusia. 

Faktor yang mempengaruhi usia panjang anjing ras Shih-tzu antara lain:
🐕 Genetik dan keturunan (Shih-tzu dengan garis keturunan dan genetik yang sehat umumnya akan berumur relatif panjang. Chella sendiri lahir dari orang tua yang sepertinya sangat dijamin kesehatannya karena melihat dari garis keturunannya dengan nama marga 'von atmosfer') 
🐕 Pola makan (Chella sendiri sejak keluarga kami rawat itu makanannya bervariasi, memang kita bukan keluarga kaya yang bisa selalu memberi makan dog food bergizi. Dulu sewaktu muda, Chella makan nasi, sosis dan campuran daging dan kaldunya. Seiring waktu makin dewasa dia akhirnya diberikan makan dog food hingga kini usia lansianya)
🐕 Perawatan gigi dan bulu (Kalau soal perawatan gigi ini keluarga kami agak kurang, jadi Chella jarang sikat gigi, jadi giginya banyak sudah tanggal. Kalau soal bulu ini masih rutin kita mandikan dan rawat, sehingga jauh dari kutu anjing atau scabies) 
🐕 Olahraga ringan (Kalau soal olahraga ringan, Chella mah anjing yang gak mager, dulu sewaktu muda senang jalan² dan diajak bermain petak umpet, bahkan saat sudah lansia ini dia masih sering jalan, walaupun matanya sudah rabun senja. Jadi meski hanya jalan berputar-putar di titik yang sama, dia senang dan semangat melakukannya, walau jalan dengan terseret-seret karena kakinya sudah tidak bisa memijak sempurna seperti waktu muda) 
🐕 Perawatan rutin ke dokter hewan (Kalau ini memang tidak sering, tapi kami memang memberikan vaksinasi dan pemeriksaan dokter ketika mengalami sakit yang kami tidak bisa atasi) 

Hal lain yang jadi kesimpulan kami keluarga yang merawatnya, kenapa Chella bisa bertahan hingga saat ini:
🐕 Dia mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan sama seperti dia dirawat kaya anak manusia, dia sampai kita anggap sebagai adik bungsu. 
🐕 Dia jarang kita pertemukan dengan anjing² lain, ini menurut saya sebagai usaha mencegah penularan penyakit atau virus atau bakteri yang berbahaya. Karena, ada pengalaman pemelihara Shih-tzu yang tidak pernah bisa bertahan lama memelihara Shih-tzu, rata² mati karena virus. 


Merawat pet kesayangan itu memang gak mudah, harus memang betul² sayang, karena kalau tidak ya kasihan sih pet kita. Yang terjadi adalah ketika muda dia menyenangkan kita, pas lansia karena repot mengurusnya dia malah dibuang atau ditelantarkan di 'panti jompo', itu sih yang bikin gak tega. 

Bahkan ada yang karena tidak suka pada hewan, melihat hal yang merepotkan seperti ini, ada yang berharap cepat mati. 


Saya punya saran apabila ada yang berkeinginan merawat atau memelihara pet, apapun hewannya: pastikan kamu itu bukan tipe orang yang mobile atau senang pergi ke mana-mana, sadari dirimu adalah tipe orang mageran dan gak bosenan. Jika kamu tipe orang gak betah di rumah, bosenan, jangan pernah pelihara pet di rumah mu. 

Karena begini, memelihara pet itu harus penuh di pantai dan diurus, gak bisa kamu seenaknya pergi meninggalkannya di rumah begitu saja. Lalu siapa yang akan membersihkannya, memberikan makan atau minumnya. 

Ini pelajaran banget, karena seperti sekarang saya gak bisa ke mana-mana, karena saya harus terpaku untuk mengurusinya, apalagi diusia Chella yang sudah senja. Bersihkan pup nya, pis nya, belum lagi diusia senja ini dia itu buta, kakinya tidak bisa jalan sempurna, untuk jaga kebugarannya kita juga harus rajin taruh dia di tempat terbuka supaya dia berjalan agar otot kakinya tetap dipakai bergerak. 

Entah sampai kapan? Ya sampai usianya usai nanti, kapan nya tidak akan ada yang tahu, yang penting kita urus dan rawat dia dengan baik, itu saja sih. 

Catatan ini adalah sekedar sharing dan berbagi pengalaman saja, mungkin bisa berbeda-beda, tapi satu yang sama, rawatlah pet kesayangan mu dengan hati, perlakukan dia dengan baik meskipun dia adalah hewan. 

Segitu saja sharing² nya, sampai jumpa dipostingan lainnya lagi. Jaga pet kesayanganmu dan rawatlah dengan hati. Jika ada pasanganmu yang senang pada hewan, supportlah, karena sama hewan aja sayang apalagi sama manusia. -cpr

#onedayonepost
#pet
#umum
#pengalaman
#pet
#shihtzu
Pernah gak sih bertanya, pas siang hari itu panasnya ampun², teriknya ke kulit itu rasanya seperti kaya menyayat kulit. Tetapi pas sore hari, cahaya matahari masih terang namun radiasi panasnya jauh berkurang. Itu kenapa bisa begitu? 

Padahal matahari yang sama yang tadi siang 'membakar' kulit mu. Kenapa pas sore atau pagi hari teriknya masih bisa diterima kulit kita, sedangkan siang tidak? 

Jawabannya adalah? 

Ilustrasi, matahari di ufuk, sore/pagi. Gambar diambil dari Google

Logika ternyata, yaitu sudut pancar sinar matahari itu sendiri, karena ketika pagi dan sore, matahari itu condong berasa di wilayah ufuk, kalau pagi di ufuk timur dan sore di ufuk barat, nah sudut kemiringan ufuk inilah yang membuat pancaran sinar matahari jadi lebih jauh ke titik terimanya di bumi. Sedangkan pada siang hari sudutnya tegak lurus sehingga pancaran matahari terasa langsung. 

Kemiringan sudut pancar sinar matahari ini juga harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, plus lebih jauh seperti yang dijelaskan sebelumnya. Semakin mengurangi dampak radiasi pancaran sinar matahari. 

Radiasi panas matahari terserap dan menyebar oleh molekul² udara sehingga intensitas radiasi yang kita rasakan itu jauh berkurang. Ini berbeda ketika matahari pada siang hari, jaraknya yang pendek membuat molukul² udara tidak mampu menyerap dan menyebarkan radiasi panas yang ada. 

Kemudian paparan sinar matahari pada saat siang hari itu lebih lama, setelah melewati sudut kemiringan (pagi) sekitar jam 9 ke atas, hingga jam 4 sore, total ada 7 jam potensi sinar matahari menyorot langsung. Sedangkan pagi hari hanya 3,5 jam dan sore hari hanya 2 jam. Paparan panas sinar matahari yang langsung ke bumi ini membuat suhu bumi jadi panas, kemudian terpantul lagi ke udara sehingga membuat sensasi siang hari lebih panas. 


Begitulah kira² logikanya ya, entahlah ini logikanya bener apa tidak, karena logika saya sering diluar mainstream, jadi bisa saja salah, tapi secara awam sih masih masuk akal. 

Hanya awan mendung sajalah yang mampu menahan paparan sinar matahari ini. Oh bisa juga ditahan oleh bulan pas gerhana walau waktunya gak lama. Tapi misalkan  lagi mendung itu bisa relatif lebih lama pancaran cahaya matahari tertahan tidak menjangkau bumi, dan kita akan terlindung dari sengat panas matahari. 

Sinar matahari yang terik ini hanya cocok untuk ngisi daya panel surya, fotosintesis, mengeringkan gabah petani, ngeringin jemuran, pengering alami untuk berbagai macam hal, membunuh kuman² penyakit yang kalah dengan sinar UV dan hal² lain yang membutuhkan itu. 

Tapi buat manusia, kulit manusia, cahaya matahari gak ada baik² nya *menurut saya. Matahari hanya merusak kulit saja, bikin hitam dan membuat sel kulit mati, bahkan bisa kena kanker kulit jika kena radiasi sinar matahari yang full saat siang hari. Cahaya matahari yang baik hanya pagi hari, sisanya mematikan. 

Tapi jika bumi tanpa matahari akan repot juga, kiamat di depan mata. Lalu apa solusinya, ya musim berjalan dengan normal, ada kalanya panas dan ada kalanya hujan, jika semuanya seimbang, saya kira akan baik. 

Segitu saja pembahasan soal pancaran sinar matahari siang dan pagi/sore itu berbeda, mudah-mudahan bisa menjawab kegelisahan selama ini. Sampai jumpa pada postingan berikutnya, membahas hal lainnya yang menarik untuk saya bahas. -cpr

#onedayonepost
#informasi
#umum
#radiasimatahari
#siangpanas
#soreadem
#pagiadem
Punya peliharaan di rumah itu pasti menyenangkan, karena ada yang menemani aktivitas ketika di rumah. Bersosialisasi dengan sesama manusia itu hal yang biasa, tapi berinteraksi dengan hewan itu punya feel yang berbeda, kesan yang berbeda. 

Entah apapun peliharaannya, burung, hamster, kucing, anjing dll. Keluarga saya ini punya peliharaan anjing, pernah juga dibahas di beberapa blog pribadi saya. 

Ketika Juli 2025 dia baru tiba di Pandaan setelah menjalani perjalanan dengan KLog. #dokpri


Tapi memelihara anjing itu juga harus telaten, jika memang anjing peliharaan mu itu dijadikan tidak sekedar peliharaan, namun jadi anggota keluarga. Menjaga dia tetap bersih, tidak bau anjing, menjaga kebersihan pup dan lee nya, tetap steril ketika berada di lingkungan dalam rumah jadi suatu keharusan yang harus dipenuhi. 

Jika orang berada macam anggota DPR yang katanya gajinya selalu kurang, itu bisa saja menggunakan jasa pet shop care untuk menjaga kebersihan hewan peliharaannya. Namun bagi rakyat biasa yang dianggap 'tolol' karena mau membubarkan DPR, menggunakan jasa pet shop care pasti harus dipikirkan berulang, karena masalah biaya. Oleh karena itu kalau hanya rakyat biasa ya mau gak mau harus siap repot untuk mengurusi hewan peliharaan kita itu agar layak dipelihara sebagai anggota keluarga, bukan sekedar peliharaan. 


Tsi Tzu peliharaan keluarga saya, yang sudah dianggap anak bungsu (ke-4), ini bener² sekali dirawat dengan telaten, ibu saya sudah menganggap Cella ini sebagai anak bungsu, dia diperlakukan ya sebagai anggota keluarga. 


Walaupun bagi orang lain yang merasa 'jiji' dan menganut paham kebersihan level dewa akan menganggap ini tidak higienis. 

Tapi selama ini Cella sudah seperti anggota keluarga, dulu ketika dia masih sehat, masih masa² produktif, ya Cella memang layak ada di dalam rumah. Sampai Cella memasuki masa senja, banyak penyakit yang menimpanya, dari katarak pada matanya, masalah gangguan saraf dan secara fisik agak pengkor, pendengaran yang tidak maksimal membuatnya jadi tidak seperti dulu, perawatannya lebih extra lagi. 

Belakangan ya dia (baca: Cella) punya masalah pada matanya yang mengalami katarak, muncul cairan yang seperti gel pada matanya yang sering berair/ basah, nah efek basah ini membuat 'jembek' di bangian mata, muka, lebatnya bulunya membuat campuran tidak sedap dan seperti bau ikan asing. Ternyata bau ikan asin ini datang dari cairan gel/nanah dari matanya yang mengalami katarak. Jika dibersihkan pun karena seperti gel akan menjadi kotoran lagi bagian matanya. 

Akhir pekan yang lalu sempat dimandikan, tetapi tidak sampai grooming atau memangkas bulu² nya, jadi ya tetap seperti kotor. Bau ikan asinnya masih tetap saja. 

Sampai akhirnya siang ini Cella di treatment grooming sendiri, potong bulu sendiri dan mandi sendiri. Repot, iya repot sekali sih sampai harus dipegangin 3 orang, saya, adik saya dan eksekutornya ibu saya. Dokumentasinya bisa dilihat difoto dibawah ini. 

Tampang stres Cella ketika dipegangin 3 orang, ekspresinya kaya lagi mau diapain aja. #dokpri

Nampak wajahnya masih jembrong, coklat kotor bulunya meng-coklat kena kotoran dan debu. #dokpri

Ini lagi motongin bulu dikaki belakangnya. Dipegangin biar gak berontak. #dokpri

Ini lagi motongin kaki bagian lainnya, hanya bisa pasrah dpegangin sambil mendengar kalimat² afirmasi positif. #dokpri

Bayangkan saja ekspresi mukanya Cella yang meronta tapi tak bisa melawan. Dia takut sebenarnya, takut tergunting soalnya dia pernah mengalami, jadi seperti ada rasa ketakutan disakiti. 

Jadi sambil dipegangi, saya menyampaikan afirmasi supaya dia tenang, walaupun kata² itu entah dimengerti atau tidak, tapi nampaknya Cella memahami itu. Ada kalanya dia diam dan tenang, ada kalanya dia melawan ketika dia merasa kurang nyaman, ya setidaknya itu bentuk komunikasi dia pada kami. 

Ini view setelah dipotong bulunya dan dimandikan, nampak lebih seger dan bersih, gak bau ikan asin lagi. #dokpri

Ya inilah solusi kami punya demi efisiensi biaya, ya mau gak mau harus repot. Tapi dengan begitu bonding kami keluarga dengan peliharaan jadi terjalin. Kami bisa saling mengerti walaupun bahasa yang digunakan berbeda. 

Sejauh ini kehidupan Cella di Pandaan sih lebih baik daripada ketika di Cirebon. Oh ya, ada hal menarik, jadi setelah dimandikan, Cella kan makan, lalu disimpan di halaman belakang untuk dijemur, karena di rumah mau dipel. Eh gak lama dia pup, pup nya gak kecil kaya biasa, tapi besar kaya tainya manusia. Dan ini kita semua baru pernah melihatnya. Kita jadi mikir, mungkin pas selama dipegangin itu, perut dan ususnya tertekan dan memadatkan usus besarnya sehingga tainya menjadi besar dan utuh sempurna. 

Ya sayangnya gak didokumentasikan tadi, karena sudah panik takut bulunya kena tainya, wong habis mandi, masa iya kena tai bau lagi nanti. 

Begitulah kira², kalau punya peliharaan anjing yang statusnya gak sekedar pelihara tapi jadi anggota keluarga maka ya harus mau repot, kalau punya duitnya ya pas²an. Memang harus telaten dan gak bisa kalau hanya sendiri yang urus, ya minimal 2 orang yang handel.

Segitu saja sih sharing² saya, sebagai keluarga yang punya peliharaan anjing sebagai anggota keluarga, bukan sekedar peliharaan biasa. 

Bagaimana dengan cerita mu, apakah juga punya peliharaan biasa atau dianggap sebagai anggota keluarga juga? -cpr

#onedayonepost
#pet
#tzitsu
#cella
#marcellavonatmosfer
#pengalaman
#umum

Saya sengaja buat postingan ini karena keprihatinan komentar yang menganggap hewan peliharaan itu sekedar hewan 🐥🐶🐱🐮, yang ketika sudah gak diperlukan ya dibuang, dicampakan begitu saja, melupakan semua kenangan² yang pernah terjadi. 

Ini berlaku untuk pada hewan apapun yang kamu pelihara, walaupun efek psikis kepada hewannya itu bisa berbeda-beda, ada yang cuek ada yang mengena ke psikisnya. 

Ketika Cella masih sehat dan diajak sepedaan sama mami, ini anak bungsunya mami. #dokpri

Saya ambil contoh anjing. Karena hewan ini punya sesuatu dimemori mereka yang membuat mereka lebih peka dibandingkan dengan hewan peliharaan lainnya. 

Pernah gak lihat video yang sengaja dibuat untuk menunjukan, bagaimana respon anjing kita, yang tiba² dibuang atau ditinggal di tempat asing, ditinggal begitu saja dan majikannya pergi. Video ini dibuat hanya untuk melihat reaksi, karena banyak terjadi hal seperti ini tapi tidak ada dokumentasinya, sehingga video ini dibuat untuk mewakili situasi atau menggambarkan situasinya.

Kalau ini video bukan rekaan, tapi ada case yang membuang anjing tapi tertangkap kamera video dan nampak si majikan tega membuat anjingnya berlari diantara kendaraan yang tengah melaju. Source: youtube

Ini juga contoh video sejenis dari negara lain. Source: youtube

Ini juga video serupa, tapi bukan video dibuat-buat tapi sepertinya kejadian realita. Source: youtube

Anjing itu kebingungan dan berusaha mencari majikannya, dia mencoba mengendus tapi gak bisa, dia menyadari bahwa itu tempat asing baginya. Si anjing berusaha mencari dan mengendus bau majikannya, hanya dengan itu dia berusaha. Tujuannya cuma satu mencari majikannya dimana, dia khawatir. Mungkin juga dia tidak mengkhawatirkan dirinya, naluri dia hanya mencari majikannya sampai ketemu. Bisa dilihat pula ketika majikannya ketemu, betapa senangnya dia. 

Bayangkan jika anjing peliharaan mu dibuang begitu saja dan kamu sebagai majikan ya tanpa rasa bersalah pergi begitu saja. Padahal si anjing mu itu memikirkan mu, tapi sebaliknya tidak.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada postingan sebelumnya, keluarga saya pelihara seekor anjing Tsi Tzu sudah lama, meski kami tangan kedua yang memeliharanya namun relasi kami cukup dekat. Dia bukan peliharaan yang disimpan di kandang, dia hidup bersama-sama dengan kami di rumah. Bercanda, bermain, menemani, jadi teman ngobrol dll., banyak hal yang keluarga kami lakukan bersamanya. 

Dulu ya bisa dibilang bersih sekali, makan, buang kotoran semuanya teratur dan tertata, sehingga bau anjing itu gak terasa, karena dia dipelihara seperti boneka hidup, baunya wangi karena parfum selalu tersedia, mandi dan grooming rutin dilakukan sendiri, ya sama seperti anggota keluarga layaknya 'manusia'. Bahkan dia kami anggap sebagai si bungsu. 

Seiring waktu, usianya terus bertambah, sakit tua dan fisiknya gak seperti dulu. Matanya mulai bermasalah dan ada infeksi sehingga kerap mengeluarkan bau, sejak itu penglihatannya mulai kabur dan kesulitan beraktivitas. Ditambah lagi kaki belakangnya entah karena insiden apa (kami gak tahu), seperti pengkor. Alhasil situasi ini membuatnya kesulitan, pup dan buang air gak bisa seperti dulu. Mulai saat itu, dia jadi seperti anjing pada umumnya yang bau anjing. 

Karena soal kebersihan ini akhirnya kini dia dipelihara di kandang untuk melokalisir kotorannya, makan dan minum juga di sana. Memang sejak itu pula lah bau tidak sedap seperti layaknya memelihara anjing. Aroma² yang banyak gak disukai, apalagi mereka yang terbiasa bersih. Hal seperti ini sudah pasti harus disingkirkan. 

Itu kenapa beberapa saran yang muncul:
🗣️: "Kenapa gak dibuang saja?"
🗣️: "Kenapa gak ditaruh di shelter anjing saja?"
🗣️: "Kenapa gak ditaruh di luar/halaman?"

Dari semua itu kita yang jadi keluarga ya berat, masa iya senang bersama, giliran susah begini dicampakan, bak pepatah "habis manis sepah dibuang".

Mereka berkata demikian karena mereka gak merasakan momen² itu, jika pun mereka pernah memelihara anjing atau hewan juga, tapi saya yakin jika dipelihara dengan cara yang sama, pasti gak akan tega melakukan itu. Ini hanya soal cinta aja, orang kan lebih mudah menjudge. Sama seperti saya kali ini juga menjudge bahwa mereka gak punya cinta. 

Jadi berhentilah menyalahkan orang lain dengan pilihan yang dibuat, pasti ada latar belakangnya. Soal kenapa peliharaan saya gak ditaruh diluar? Itu karena, Tsi Tzu yang kami pelihara adalah ras murni, bersertifikat, dan dia bukan hewan yang dipelihara di luar ruangan, karena selama ini suhu ruangan lebih baik dan buat dia nyaman dan hidup bahagia hingga usia senja.

Jika di luar resikonya ular, gongongannya mengganggu apalagi dengan lingkungan yang menganggap mereka najis dll., bayangkan bagi mereka yang tidak menganggap najis saja dia disingkirkan apalagi dengan yang menganggapnya najis, bisa diracun. 

Kemudian, banyak rekan² kolega saya yang menceritakan pengalamannya memelihara Tsi Tzu gak pernah bisa bertahan lama, 1-2 tahun mati, dikarenakan virus tertentu. Mereka heran Tsi Tzu yang kami punya bisa bertahan hingga usia senja. 

Saya tidak tahu bagaimana mereka pelihara, tapi saya tidak bisa menjudge mereka memelihara, catatan saya, mereka yang intens memelihara dan niat saja gampang terkena penyakit, apalagi kalau Cella ini ditempatkan di luar. 

Jadi intinya begini, perlakukanlah hewan dengan baik, apalagi hewan yang punya cerita dan kenangan baik dengan mu, intinya bagaimana dia dipelihara dulu, sekarang dan nanti minimal berikan kasih sayang yang sama. 

Contohnya begini, kamu pelihara anjing, sejak awal dia dipelihara di luar, di kandang dan dirantai karena alasan tertentu. Suatu saat ketika dia tua, ya perlakukanlah dia minimal sama seperti itu, jangan kamu perlakukan dia lebih buruk atau bahkan dicampakkan ketika dia tua atau merepotkanmu. Jadi perlakukanlah sama sejak awal, sekarang atau nanti. 

Mungkin saya dinilai buruk dalam perlakukan orang² terdekat, bagi kacamata orang tertentu yang bisa perlakukan lebih baik dan memang baik, lalu dia membandingkannya saya mempertahankan hewan peliharaan daripada memperlakukan manusia. 

Statementnya begini: "Kamu lho merawat orang tua, adik saja gak becus, ngasi duit aja gak pernah, tapi bela²in pelihara hewan seperti segitunya. Gak mikir penyakit dll., yang dari kotoran hewan dll."

Nah bisa saja saya dikatain demikian. Saya tidak cari pembenaran apapun, tapi intinya satu hal, mengerti dan pahami kenapanya, banyak kenangan hasil relasi antara kita dengan hewan peliharaan kita, walaupun belum tentu si hewan ingat, tapi kita kan ingat, ya hargai itu sih. 

Intinya bagi pencinta hewan pasti akan setuju dan menganggap ini benar dan bisa dipertanggung jawabkan. Toh ini hanya masalah sepele, gimana memahami. 

Pada intinya disini saya akan selalu dianggap salah memilih cara ini. Itu kenapa, saya tulis sesuai judul demikian, itu yang saya rasakan ketika pilihan kita dianggap 'aneh' orang pada umumnya. Mungkin ini asumsi, tapi asumsi lahir karena pernah muncul pernyataan² yang mendukung asumsi itu tercipta. 

Segitu saja, postingan ini sekedar sharing apa yang saya rasakan, ketika duduk melihat hewan peliharaan kita yang tak sudah seperti dulu lagi, sedih tapi gimana, dimasa tuanya mudah-mudahan bisa tetap merawat hingga ajak menjemputnya. -cpr

#onedayonepost
#opini
#postingpribadi
#sayangipeliharaanmu
#jangancampakanmereka
#loveyourdog
#tsitzulovers
#pengalaman
Akhirnya rasa penasaran dan jawab²an dari logika saya sendiri melihat fenomena alam ketika saya berkunjung ke Gunung Kidul pada kisaran tahun 2015/2016 terjawab. 

Gunung Kidul, gambar diambil dari Google

Jadi pas ke Gunung Kidul daerah di sekitaran Jogjakarta, pas mau ke pantai, saya kan lewat lawasan perbukitan dan tebing² gitu, saya lihat paprasan tebing yang terlihat sedimentasinya, itu seperti koq menunjukan batuan karang yng identik dengan di pesisir atau di laut. 

Tebing² karang di dekat laut juga seperti ini karakternya. Tapi yang buat saya heran, posisi laut itu masih jauh, ini malah masih di puncak² perbukitan. Kemudian juga, saya melihat kiri-kanan tanahnya itu seperti tanah² di pesisir Laut gitu. Itu kenapa saya berlogika, jangan² di sini dulunya adalah laut atau pernah terendam air laut. Kemudian seperti ada sisa² kerang²an laut. Nah bisa dibayangkan, berarti dulunya di posisi saya berada saat itu (di perbukitan) adalah laut, berarti pantai yang saat ini mau saya tuju itu bisa jadi dasar lautnya, atau bahkan hanya tubiran laut. 

Tapi pada tahun kapan di sini itu kondisinya laut? 

Saya jadi berpikir pada alatnya Doraemon, jika alat itu nyata, saya ingin saja memutar waktu beberapa tahun atau mungkin ratusan tahun atau ribuan tahun lalu, seperti apakah tempat yang saya pijak itu dulunya? Ini jadi pertanyaan saya sampai saat ini. 

Ilustrasi, suasana bentang alam Gunung Kidul. Gambar diambil dari Google

Pada akhirnya pertanyaan dan dugaan berdasarkan logika saya itu terjawab ketika membaca sebuah artikel dari X, artikel yang diposting dari X, yang menyatakan bahwa daerah Gunung Kidul dulunya memang laut dan pernah terendam air laut. Jadi bisa dibayangkan betapa tingginya debit lautan ketika itu. 

Pertanyaan lanjutan, kenapa saat ini bisa menyusut drastis, lautnya justru turun ke bawah puluhan kilometer. Ini terjadi karena apa? 

Pada postingan kali ini coba menjawab itu, tapi apakah bisa menjawab semua pertanyaan² di kepala dan yang tertulis di atas tadi? 


Jadi inilah jawabannya: jadi situasi Gunung Kidul yang berbukit-bukit sebelum menuju pantai, dan dimana di perbukitan itu ada banyak ditemukan karakter sedimentasi gamping, sisa² fosil tumbuhan dan hewani laut, terjadi karena proses geologi tektonik. Jadi bukan posisinya memang seperti itu dulunya. Tapi sebenarnya bukit² di Gunung Kidul itu adalah dulunya memang dasar laut, mungkin sejajar dengan wilayah pantai. 

Tapi karena peristiwa geologi tektonik, terjadi pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia ke arah utara, dan menabrak lempeng Eurasia yang lebih  menyebabkan bagian selatan Jawa terangkat, menjadi barisan perbukitan. 

Pergerakan lempeng bumi lah yang membuatnya terbentuk perbukitan. Sehingga sedimen² tanah yang tadinya dasar laut seperti terangkat ke atas dan berpindah, seolah² itu adalah dasar laut. Padahal sebenarnya kondisinya sama saja, muka air masih sama atau tidak meningkat signifikan, tapi efek pergeseran lempeng ke ataslah yang membuatnya terangkat dan jadi bukit saat ini, dimana yang kita pijak dulunya adalah dasar laut. 

Proses pengangkatan ini terjadi secara bertahap, tidak ujug² sekali pergeseran lempeng tektonik langsung terjadi begitu saja. 

Diduga perubahan ini terjadi pada masa Pliosen akhir sekitar 2,5 juta tahun yang lalu, belanjut ke masa Pleistosen awal sekitar 0,7 juta tahun yang lalu. 

Batuan gamping mendominasi permukaan tanah di wilayah Gunung Kidul, terbentuk dari endapan laut dangkal yang kaya akan fosil moluska. Situasi ini membuat wilayah Gunung Kidul cenderung tandus, karena yang membentuknya adalah lempengan karya dan gamping. Hanya vegetasi tertentu saja yang bisa tumbuh baik di sana seperti pohon jati dan jambu monyet. 

Selain itu pengangkatan lempeng tektonik yang terjadi di sana membentuk gua² bawah tanah, gua² karya, dimana gua² yang berongga ini diisi oleh aliran air dari air hujan, menjadi sungai² bawah tanah, yang pada akhirnya bermuara ke laut juga air² ini. 

Di Gunung Kidul terkenal ada beberapa gua karst seperti Gua Pindul dan Gua Kalisuci. Kalian pernah ke sana? Kalau Gua Pindul sih gak asing didengar di telinga sering jadi destinasi wisata saat libur lebaran. 

Ketebalan batuan gamping di sini bisa mencapai 650 meter. Usia batuan tertua itu berkisar antara 15 juta tahun yang lalu dan yang termuda di 2,5 juta tahun yang lalu. Yang tertua artinya itu merupakan lapisan batuan yang ada paling dasar lempeng ketika sebelum terangkat. 



Itulah dia jawabannya, berarti terjawab sudah. Dugaan saya ya benar tapi ada yang kurang tepat. Tadinya kan saya berpikir sejak dulu sampai saat ini kondisi Gunung Kidul adalah sama, ternyata tidak. Gunung Kidul terbentuk saat ini akibat pergerakan lempeng tektonik. 

Jadi bukan efek debit air laut meningkat sehingga menggenangi perbukitan Gunung Kidul, lalu debit air menyusut karena penguapan ekstrem, tidak seperti itu. 

Debit air laut ya masih sama, tidak terlalu berbeda signifikan, yang berubah adalah efek perubahan atau pergeseran lempeng tektonik yang membuat yang tadinya di dasar jadi terangkat ke atas, dan proses ini tidak instan melainkan bertahap dalam tempo jutaan tahun. 

Terjawablah satu per satu pertanyaan yang tadinya menjadi misteri karena saya tak mendapatkan jawaban dari yang mampu menjawab, ternyata sosial media dan Google bisa membantu saya menjawabnya. 

Segitu saja sharing² informasinya, Mudah-mudahan bisa menjawab keresahan yang juga dialami teman² yang lain, yang berpikir hal yang sama seperti saya ini. Jumpa lagi dipostingan lainnya lagu, membahas hal lain seputar bentang alam dan lingkungan. -cpr

#onedayonepost
#teori
#umum
#informasi
#gunungkidul
#lempengtektonik